SAWAH KERING : Kades Sendang, Kecamatan Bringin, Syamsudin bersama perangkat desa dan sejumlah petani mengecek kondisi lahan pertanian yang kering karena saluran irigasi rusak. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
SAWAH KERING : Kades Sendang, Kecamatan Bringin, Syamsudin bersama perangkat desa dan sejumlah petani mengecek kondisi lahan pertanian yang kering karena saluran irigasi rusak. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
SAWAH KERING : Kades Sendang, Kecamatan Bringin, Syamsudin bersama perangkat desa dan sejumlah petani mengecek kondisi lahan pertanian yang kering karena saluran irigasi rusak. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

BRINGIN–Sejumlah petani di Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang mendesak Pemkab Semarang segera melakukan perbaikan saluran irigasi yang rusak. Pasalnya, hal itu menyebabkan produktivitas pertanian padi rendah. Bahkan hasil panen di Desa Sendang merosot drastis dari sebelumnya 6-7 ton sekali musim panen, namun saat ini hanya bisa panen, 3,5 ton saja.

Salah seorang petani, Muhtarom, 52, mengatakan bahwa lahan pertanian saat ini sulit teraliri air dari Bendungan Gendor. Akibatnya, petani mengandalkan musim hujan untuk menanam padi. Meski begitu, air hujan melimpah, tidak cukup untuk mengairi tanaman padi. Belum lagi jika masuk musim kemarau, petani semakin kesulitan mendapatkan air.

“Beberapa tahun lalu air cukup, sekarang ini banyak lahan yang kesulitan air. Sehingga para petani harus mengatur air secara telaten, bahkan ada yang harus menyedot menggunakan pompa. Ini karena rusaknya saluran irigasi. Kami minta pemerintah memperbaiki saluran irigasi sehingga petani tidak kesulitan air,” kata Muhtarom di sela memantau lahan pertanian yang kesulitan air bersama Kepala Desa Desa Sendang, Syamsudin.

Petani lainnya, Riyanto, 56, menduga pembangunan saluran irigasi tersebut tidak sesuai spesifikasi. Sebab dirinya ikut melihat langsung proses pengerjaan, mulai dari ukurannya yang tidak sesuai dan bahan yang digunakan tidak sebanding.
“Saya melihat setiap tahun ada anggaran pemeliharaan tetapi nilainya kecil. Selain itu, dikerjakan asal-asalan. Misalnya perbandingan campuran antara semen dengan pasir harusnya 1: 4, tapi saat pengerjaan perbandingannya 1: 14. Akibatnya saluran irigasinya cepat rusak,” kata Riyanto.

Kepala Desa Sendang, Syamsudin menambahkan, saluran irigasi dari Bendung Gendor telah rusak yang berlangsung lama. Pihaknya sudah berulang kali mengajukan usulan perbaikan, namun belum pernah direalisasikan. Padahal fungsinya saluran irigasi dapat meningkatkan hasil panen, sehingga dapat tercapai swasembada pangan.

“Sudah berulang kali kami mengajukan bantuan ke Pemkab Semarang untuk mendapatkan bantuan. Tapi belum ada realisasi, hingga perbaikan secara menyeluruh di semua irigasi. Kami harap Pemkab segera menganggarkan untuk perbaikan. Apalagi Presiden Jokowi menyatakan hendak meningkatkan panen menuju swasembada pangan,” kata Syamsudin.

Akibat kerusakan saluran irigasi tersebut, banyak petani yang tidak menggarap lahannya pada musim kemarau karena kesulitan air. Jika masih ada sedikit persediaan air, petani hanya bisa menanam palawija. “Saking sulitnya air, warga akhirnya mengubah tanah pertanian menjadi permukiman dengan didirikan rumah,” imbuhnya. (tyo/ida)