BERKELAS: Penjualan motor sport kelas premium merek Ducati, masih belum begitu bagus di Kota Semarang. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
BERKELAS: Penjualan motor sport kelas premium merek Ducati, masih belum begitu bagus di Kota Semarang. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
BERKELAS: Penjualan motor sport kelas premium merek Ducati, masih belum begitu bagus di Kota Semarang. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Penjualan pasar motor sport kelas premium di kota Semarang ternyata tidak secerah penjualan mobil pada kelas yang sama. Membaiknya situasi ekonomi masyarakat saat ini pun tidak memengaruhi penjualan motor mewah ini. Salah satu penyebab penjualan yang stagnan ini, lantaran tingginya Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Pabrikan motor asal Italia Ducati contohnya, penjualan motor sport kelas premium ini tidak mengalami pertumbuhan berarti dibandingkan tahun lalu. Motor sport yang harganya mulai Rp 350 juta ini hanya diminati kalangan tertentu saja. “Grafiknya berjalanan stagnan, penjualan motor Ducati di Jateng belum begitu baik,” kata Albertus Eric Prakoso, Store Manger Ducati Semarang.

Menurut dirinya, tingginya PPnBM pun mempengruhi penjualan motor kelas premium ini. Tahun lalu, pihaknya hanya bisa menjual 40 unit motor Ducati lantaran terperngaruh oleh keadaan politik yang cukup gaduh, yakni Pilpres. “Pemilu sangat berpengaruh terhadap penjualan produk, sementara di tahun ini terkendala tingginya pajak barang mewah yang diberlakukan. Dengan rentang harga di atas Rp 350 juta, saat ini masyarakat cenderung memilih mobil dibandingkan kendaraan roda dua,” tandasnya.

Walaupun sulit dirinya optimistis tahun ini bisa mencapai target penjualan motor Ducati sebanyak 50 unit. Apalagi Ducati saat ini mempunyai beragam tipe motor yang ditawarkan seperti sport, touring dan semi touring. “Untuk pasar Semarang lebih cenderung tipe motor touring melihat kontur jalan yang ada, dengan kisaran umur pemakai di atas 30 tahun. Sementara untuk kelas sport lebih cenderung ke anak muda,” ujarnya.

Untuk produk yang paling banyak dicari masyarakat adalah jenis produk Ducati Monster dan Ducati Diavel yang dibanderol mulai Rp 350 juta dan Rp 550 juta, yang cocok digunakan untuk sehari-hari dengan market share kalangan atas. “Market sharenya memang kecil, tapi bukan berarti tidak bisa pencintanya. Peminatnya sendiri orang yang mementingkan kenyamanan, kualitas dan prestise dalam berkendara,” tuturnya.

Dirinya mengaku lebih menggenjot penjualan dengan menggandeng komunitas motor besar yang bisa menjadi sarana promosi. “Sparepart dan servis sudah ada di Semarang, jadi kami yakin tetap memiliki pasar sendiri,” pungkasnya. (den/smu)