Untung Husodo, generasi keempat penerus bisnis lunpia. (FOTO : ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
Untung Husodo, generasi keempat penerus bisnis lunpia. (FOTO : ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
Untung Husodo, generasi keempat penerus bisnis lunpia. (FOTO : ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
RAMAI : Lunpia gang Lombok selalu ramai pembeli lantaran cita rasanya yang khas sejak ratusan tahun lalu. (FOTO : ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
RAMAI : Lunpia gang Lombok selalu ramai pembeli lantaran cita rasanya yang khas sejak ratusan tahun lalu. (FOTO : ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

PECINAN – Lunpia merupakan salah satu makanan khas Kota Semarang yang berasal dari dua budaya, yakni Tionghoa dan Jawa. Konon makan khas Semarang ini muncul diabad 19 lalu bermula dari pertemuan Tjoa Thae Joe dan Mbok Wasih.

Menurut informasi yang dihimpun, Tjoa Thae Joe yang kala itu membawa makanan dari Tiongkok yang isinya rebung dan daging, kemudian bertemu dengan Mbok Wasi yang menjual makanan hampir mirip, namun dengan isi rebung dan udang. Singkatnya, pertemuan keduanya berakhir indah karena keduanya menikah dan menggabungkan usaha makanan yang kini menjadi Lunpia, ikon Kota Atlas. Lunpia sendiri berasal dari kata Lun dalam bahasa Cina yang berati lunak dan Pia yang artinya kue.

Usaha keduanya lantas berkembang menjadi bentuk lunpia yang ada saat ini dengan isi rebung, telur, daging dan udang. Sebelum menentap di di Gang Lombok No 11 Semarang, Tjoa Thae Joe dan Wasi berkeliling menjual lunpia selama betahun-tahun. Kini bisnis tersebut dijalankan oleh keturunan ke empat yang oleh cicit Tjoa The Joe – Wasi yakni Untung Usodo. “ Saya keturunan ke empat, sebelumnya saya menggantikan bapak Saya Purnomo Usodo yang telah puluhan tahun jualan di sini,” kata Pemilik Lunpia Gang Lombok Untung Usodo.

Usaha turun temurun tersebut, sudah berjalan selama ratusan tahun. Uniknya lunpia Gang Lombok memiliki keunikan yakni irisan rebung tidak berbau kecing. Menurut Untung, rahasianya adalah kebersihan dalam pencucian. “ Rebung dicuci berkali-kali hingga tidak meninggalkan bau, Isian rebung tidak berbau sehingga orang yang tidak suka rebung bisa suka,” ujar pria 54 tahun ini.

Keunikan lainnya adalah pada kemasan atau anyaman bambu menjadi ciri khas supaya lunpia tetap segar dan enak saat disantap. Setiap harinya, sekitar dua kuintal rebung dalam satu hari dihabiskan. Menjelang hari raya atau liburan, kebutuhan rebung akan meningkat 2-3 kali lipat. Bahan baku rebung sempat menjadi kendala karena saat musim kemarau kualitas tidak begitu bagus. “Besek digunakan agar lunpia tetap segar dan tidak pengap lantaran ada fentilasi udara. Selain itu juga menjaga citarasa lunpia, sementara untuk rebung kami dapat dari pemasok yang membudidayakan rebung,” tandasnya.

Lunpia bisa dinikmati dalam bentuk goreng dan basah dengan harga sama Rp 12.000. Lunpia dikemas dalam besek sudah melanglang beberapa negara lain seperti Jerman, Amerika, Thailand dan lainnya. Ketatnya persaingan saat ini tidak membuat dirinya gusar, lantaran rasa ke originalan lunpia dari jaman nenek moyang selalu ia pertahankan. “Kalau masalah rasa yang original cuman ada di sini, semua orang sudah tahu,” tuturnya.

Penjelajah kuliner mudah mengakses kedai Lunpia Gang Lombok karena berdekatan dengan Kelentang Tay Kak Sie. Kedai sederhana 15 m2 mampu memuat sekitar 10- 15 pengunjung, walaupun tempatnya sangat kecil, pembeli tidak pernah sepi bahkan rela mengantri. Sembari mengantri pengunjung bisa melihat proses meracik isian memang dilakukan di kedai supaya lebih fresh. “Hari biasa, saya bisa menjual minimal 500 buah lunpia. permintaan semakin besar pada hari libur bahkan mencapai ribuan buah,” tutupnya.

Satu porsi lunpa disajikan dengan bumbu manis dari tepung tapioka dan acar. Sebagai lalapan disuguhkan pula daun bawang, selada dan cabai. Daun bawang berkhasiat untuk menguatkan otot jantung, selada berfungsi untuk menjaga kulit tetap awet muda dan acar untuk mengurangi bau amis. (den/zal)