PENCINTA ROCK: Semarang Community of Rock saat menggelar pentas di halaman kampus STIE AKA Jalan Ki Mangunsarkoro, Semarang. (Dok SCOR)
PENCINTA ROCK: Semarang Community of Rock saat menggelar pentas di halaman kampus STIE AKA Jalan Ki Mangunsarkoro, Semarang. (Dok SCOR)
PENCINTA ROCK: Semarang Community of Rock saat menggelar pentas di halaman kampus STIE AKA Jalan Ki Mangunsarkoro, Semarang. (Dok SCOR)

Di tengah maraknya berbagai aliran musik, Semarang Community of Rock atau SCOR tetap bertahan menghidupkan aliran rock klasik. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

ERA musik rock klasik boleh jadi telah berlalu. Namun tak sedikit fans maupun musisi yang masih berkiblat ke jenis musik ini. Semarang Community of Rock (SCOR) mewadahi dan berupaya terus menghidupkan aliran musik yang berjaya di era 1980 hingga 1990-an ini.

”Aliran musik ini bisa dibilang, salah satu yang cukup berkualitas, baik dari warna musik maupun gaya permainannya. Jadi, meski populer di era 1990-an, sampai sekarang tetap enak dinikmati dan memiliki penggemar sendiri,” ujar Ketua SCOR, Arif Darmawan kepada Radar Semarang.

Komunitas ini sendiri bermula dari berkumpulnya para fans sejumlah band yang tenar di era 1980-90-an. Sebut saja Queen, Bon Jovi, Van Hallen, Skid Row, Metallica, dan lainnya. Berbagai acara musik yang membawakan lagu-lagu tersebut di sejumlah kafé mengenalkan mereka satu dengan yang lain.

”Acara-acara musik dengan lagu-lagu rock klasik ini jadi semacam ajang kumpul para penggemar. Seiring berjalannya waktu kita jadi saling kenal,” katanya.

Ternyata, tak sedikit dari para penggemar tersebut yang juga piawai bermain musik dan menyanyi. Sehingga di sela-sela waktu istirahat ngeband, beberapa yang datang saling bergantian membawakan lagu favorit mereka.

Dari situ, munculah ide untuk membentuk komunitas. Diprakarsai oleh Yuwono, Yani, Enggar, Resa dan Wawan, dibentuklah SCOR pada Agustus 2010. Komunitas ini diharapkan dapat memfasilitasi para penggemar musik rock untuk mengembangkan diri.

”Kita ingin menunjukkan, aliran ini memiliki pengaruh yang baik dalam perkembangan musik, cukup berkualitas,” ujar pria yang piwai bermain gitar ini.

Namun demikian, kesibukan dari masing-masing anggota membuat aktivitas komunitas ini mengendur. Ada yang memang sibuk dengan kuliah, pekerjaan atau kegiatan lain, ada juga yang terbawa tren aliran musik lainnya.

”Kita tidak pernah mengikat siapa pun yang ingin bergabung untuk harus selalu berada dalam komunitas. Kalau ada hobi maupun kesukaan lain, ya silakan saja. Komunitas ini sifatnya fleksibel. Sampai sekarang kita memiliki anggota sedikitnya 80 orang dengan usia antara 20 hingga 40-an tahun,” katanya.

Aktif bekerja sama dengan berbagai komunitas lain juga menjadi salah satu agenda untuk menyelipkan warna musik rock pada generasi muda. Sejumlah kegiatan baik atas prakarsa SCOR maupun menggandeng pihak lain juga sempat dilakukan.

”Beberapa waktu lalu kita mengadakan festival bersama sejumlah komunitas, kemudian mendatangkan musisi dengan aliran rock klasik, serta aktif di berbagai media, khususnya radio,” ucap pria kelahiran Semarang ini.

SCOR sendiri menyambut baik siapa pun yang berminat untuk gabung. Meski komunitas musik, tak semua anggota harus bisa bermain musik, para pencinta musik maupun fans dari sejumlah band rock klasik baik dalam maupun luar negeri dipersilakan untuk bergabung.

”Ke depan kami berharap lebih banyak lagi yang menyukai rock klasik, dan lebih banyak pihak yang mendukung maupun memfasilitasi pengembangan musik ini,” harapnya. (*/aro/ce1)