Sudah Banyak Korban, Tak Kunjung Diperbaiki

156
SUKARELA : Warga sekitar dengan sukarela mengatur arus lalulintas di Perempatan Kumpulrejo, Jalan Lingkar Salatiga (JLS), lantaran kerap terjadi kecelakaan lalulintas. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
SUKARELA : Warga sekitar dengan sukarela mengatur arus lalulintas di Perempatan Kumpulrejo, Jalan Lingkar Salatiga (JLS), lantaran kerap terjadi kecelakaan lalulintas. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
SUKARELA : Warga sekitar dengan sukarela mengatur arus lalulintas di Perempatan Kumpulrejo, Jalan Lingkar Salatiga (JLS), lantaran kerap terjadi kecelakaan lalulintas. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

SALATIGA—Pemkot Salatiga belum berniat membuat jalur penyelamat dan speed trap di Perempatan Kumpulrejo, Jalan Lingkar Salatiga (JLS) yang sudah memakan banyak korban kecelakaan. Alasannya karena jalur tersebut sudah diambil alih oleh Pemprov Jateng dan menjadi jalan provinsi.

“Anggaran tidak bisa serta merta dibuat, karena menunggu pengajuan anggaran di akhir tahun,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Salatiga, Ady Suprapto.

Alternatif jangka pendek, lanjut Ady, adalah dengan menggunakan tenaga outsourcing untuk menjaga titik-titik rawan. Yaitu memberdayakan masyarakat sekitar, tapi harus melalui tes di Dishub. Sampai saat ini Dishub masih mengkaji jumlah tenaga yang akan dibutuhkan serta beberapa titik yang akan diberi penjagaan. Tapi jelas, paling rawan adalah tanjakan Salib Putih.

“Saya mendapatkan desakan dari beberapa pihak agar Dishub segera membuat jalur penyelamat dan pita kejut. Tapi karena anggaran terbatas, maka tidak bisa apa-apa,” jelasnya.

Lebih lanjut mengenai penerangan jalan, Ady menjelaskan, dirinya perlu berkoordinasi dengan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Ciptakaru). Karena masalah penerangan jalan adalah wewenang Dinas Ciptakaru.

Padahal semenjak kasus kecelakaan truk pengaduk semen di Perempatan Kumpulrejo, JLS beberapa waktu lalu (8/3), telah mengundang simpati masyarakat. Banyak warga sekitar dengan sukarela mengatur lalulintas di sana. Namun Dishub tak memberikan apresiasi positif.

Haryanto, 45, salah satu pengatur lalulintas perempatan mengatakan tentang perlunya dilakukan tindakan. Rambu lalu lintas yang rusak akibat dihantam truk yang tergelincir dari tanjakan Salib Putih juga belum diperbaiki. Di sini, masyarakat bersukarela menjaga lalu lintas, bila sewaktu-waktu ada kendaraan yang mengalami rem blong dari atas bisa segera menyetop kendaraan di bawah.

“Meskipun sudah diberi tulisan peringatan dari atas, agar berjalan pelan-pelan, tetap saja banyak yang mengalami rem blong. Solusinya memang dibangun jalur penyelamat. Karena kecelakaan sudah berkali-kali terjadi,” pungkasnya. (abd/ida)