UNGARAN–Pelayanan kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Semarang dinilai buruk. Lantaran, permintaan penyemprotan untuk penanganan wabah Demam Berdarah (DB) tidak cepat direspon. Selain itu, RSUD Ambarawa sampai kehabisan stok obat penyakit berisiko tinggi seperti antitetanus.

Penilaian tersebut disampaikan dalam rapat kerja evaluasi APBD 2014 seluruh SKPD Pemkab Semarang di gedung DPRD Kabupaten Semarang, Senin (9/3) kemarin. Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening mengatakan bahwa buruknya pelayanan kesehatan tersebut diketahui karena banyaknya laporan dari masyarakat. Seperti ada pasien yang mengeluh karena tidak mendapat pelayanan obat antitetanus di RSUD Ambarawa, karena stoknya habis.

“Ada laporan dari pasien bahwa di RSUD Ambarawa tidak ada obat antitetanus. Padahal warga Banyubiru harus segera mendapatkan penanganan karena terkena tetanus saat berobat di akhir Februari 2015 ini. Akhirnya pasien itu batal berobat di RSUD dan pindah ke RS swasta. Ini jadi aneh, kok RSUD sampai kehabisan stok, padahal ini obat yang sangat penting,” kata Bondan.

Bondan juga menilai Dinkes Kabupaten Semarang lamban merespon permintaan masyarakat yang mengajukan fogging atau penyemprotan untuk membasmi nyamuk penyebab DB. Demikian halnya dalam penanganan tipus sangat lamban. Padahal saat ini, kasus penyakit DB dan tipus di wilayah Kabupaten Semarang tergolong tinggi. “Semestinya Dinkes sudah siap dan jika ada laporan masyarakat segera bertindak. Apakah karena tenaganya tidak ada atau alat fogging,” kata Bondan.

Ditambahkan Ketua DPRD, Bambang Kusriyanto, semestinya Dinkes mengutamakan pelayanan masyarakat. Jika jalur birokrasinya terlalu panjang untuk penanganan yang segera, maka bisa saja Dinkes memotong jalur birokrasinya.

Menanggapi hal itu, Dirut RSUD Ambarawa, Rini Susilowati justru berkelit bahwa RSUD yang dipimpinnya belum pernah mengalami kekosongan obat. Pihaknya akan melakukan pengecekan lagi terkait adanya laporan tersebut. Sebab, saat ini pihaknya belum mengetahui laporan secara utuh dari bawahannya soal kekosongan obat tetanus. “Nanti kami telusuri laporan itu. Obat tetanus dengan dosis sekali pakai itu memang sekarang tidak ada, lantaran pabriknya sudah tidak memproduksi,” tutur Rini.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Semarang, Gunadi mengatakan bahwa pihaknya belum dapat memenuhi semua permintaan fogging masyarakat secara cepat. Sebab ada keterbatasan sumber daya manusia. “Kami terkendala dana transport bagi tenaga fogging dan terbatasnya jumlah tenaga fogging,” kata Gunadi. (tyo/ida)