ORANGTUA KREATIF: Orangtua siswa SD Harapan Bunda menunjukkan produk kreativitas dari barang bekas. (jpnn)
ORANGTUA KREATIF: Orangtua siswa SD Harapan Bunda menunjukkan produk kreativitas dari barang bekas. (jpnn)
ORANGTUA KREATIF: Orangtua siswa SD Harapan Bunda menunjukkan produk kreativitas dari barang bekas. (jpnn)

SIAPA bilang ibu-ibu rumah tangga yang juga anggota komite sekolah tak bisa kreatif menyulap barang bekas menjadi produk yang bernilai jual tinggi. Bila Anda melihatnya, pasti akan merasa heran karena berbagai barang bekas dari plastik maupun kertas bisa dibuat menjadi bentuk yang unik.

Seperti yang dilakukan para orangtua siswa SD Harapan Bunda yang sengaja datang ke sekolah pada Sabtu lalu untuk memamerkan produknya untuk dilombakan di sekolah anaknya sekaligus memeriahkan acara seminar parenting “Orangtuaku Teladanku” dengan motivator Drs Edy Darmoyo.

Mereka di antaranya ada memanfaatkan botol gelas plastik bisa dibuat tutup nasi. Ada juga yang membuat tutup lampu dari kertas kardus bekas, serta membuat tas plastik dari bungkus minyak goreng. “Umumnya kami mendapat ide dari internet dan kreativitas sendiri,” jelas Yuni, salah satu wali siswa.

Dalam lomba tersebut, juara I dimenangkan anggota komite kelas II, yakni Kholid-Zubeir yang membuat map dari bungkus kemasan minyak goreng dan lampu hias. Juara II komite kelas V yakni Umar dan Sumayah yang membuaat hantaran pernikahan dari kertas bekas, dan juara III komite kelas I atas nama Saad dan Zaid yang membuat tudung saji dari botol plastik dan tempat tisu dari kardus.

Kepala SD Harapan Bunda, Lusiana Fatmawati mengatakan, kegiatan seminar parenting yang dimeriahkan lomba antarorangtua ini rutin digelar setiap tahun oleh komite sekolah bekerja sama dengan pihak sekolah.
“Kita memang rutin dan sengaja melibatkan orangtua untuk datang. Karena di acara ini juga ada motivator yang akan memberikan pengarahan kepada orangtua siswa,” jelasnya didampingi Ketua Komite Sekolah, Ajib Setiya.

Master Trainer and Motivator Drs Edy Darmoyo mengajak agar para orangtua bisa dijadikan idola anak. Jangan sampai anak justru mengidolakan orang lain, seperti melihat tokoh di televisi.

“Banyak kasus anak lebih mengidolakan orang lain dibanding orangtuanya sendiri, dan ini tidak boleh. Sebisa mungkin orangtua memberikan pendidikan keyakinan saat di rumah,” katanya. (gus/aro)