KENDAL – Dari delapan sekolah yang diusulkan sebagai sekolah pilot project (percontohan) ujian online atau Computer Based Test (CBT) hanya tiga sekolah yang disetujui. Tiga sekolah itu yakni adalah SMK, yakni SMK 2 Kendal, SMK 3 Kendal dan SMK NU 01 Kendal. Sedangkan lima sekolan lainnya gagal karena tidak memenuhi sarat kualifikasi yang ditentukan.

Hasil ini diketahui setelah dilakukan verifikasi terhadap persyaratan sekolah percontohan peserta CBT yang diusulkan Dinas Pendidikan Kendal kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Dasar dan Menengah (Kemdikbud Dasmen) RI. “Sedangkan dua SMP dan tiga SMA yang diusulkan tidak lolos karena tidak memenuhi syarat kualifikasi untuk mengikuti CBT tahun ini.
Terutama dalam hal keteresediaan perangkat keras atau komputer yang akan digunakan untuk ujian online kurang dari jumlah minimal yang harus disediakan sekolah,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kendal, Muryono, Senin (9/3).

Lima sekolah yang tidak lolos UN online adalah, dua SMP yakni SMP 2 Kendal dan SMP 1 Weleri. Sedangkan tiga SMA adalah SMA 1 Kendal, SMA 1 Boja dan SMA Pondok Pesantren Selamat. “Jadi dari delapan sekolah, tiga disetujui dan lima sekolah tidak disetujui,” imbuhnya.

Menurutnya untuk sekolah yang mengikuti CBT harus memiliki kesiapan yang bagus. Terutama kesiapan sekolah dalam penyediaan komputer dan jaringan internet. Sebab minimal sekolah harus menyediakan 1:3 dari jumlah siswa peserta ujian online. Sebab CBT dilaksanakan secara tiga shift.

Selain kesiapan sekolah, mental siswa juga harus disiapkan sejak lama agar siswa tidak berbeda dengan siswa lain. Yakni mulai dari materi ujian dan latihan soal dengan sistem CBT. “SMP dan SMA kami minta untuk tidak memakasakan diri, sebab lebih penting masa depan siswanya. Karena SMP masih harus melanjutkan ke sekolah SMA atau SMK dan sedangkan siswa SMA digadang-gadang untuk melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi,” tambahnya.

Kepala Seksi Pendidikan Dinas Pendidikan Kendal, Sri Bagus Darmoyo menyampaikan, lima sekolah yang tidak lolos lantaran menurutnya persiapan waktu yang diberikan sekolah sangat singkat. Sehingga banyak sekolah yang tidak siap. “Karena kebutuhan komputer tidak mungkin dipenuhi dalam waktu singkat,” katanya.

Dikatakannya, persiapan dari kementrian pendidikan mulai awal pengusulan dimulai pada Februari. Sementara untuk pelaksanaan ujian nasional untuk SMA dan SMK di bulan april dan SMP dibulan Mei. “Sehingga sekolah kesulitan untuk memenuhi pesyaratan yang telah ditetapkan,” timpalnya.

Kepala SMK 3 Kendal, Condro Budi Susetyo mengaku, sejauh ini pihaknya sudah mulai melakukan persiapan untuk megikuti Ujian Online. Terutama memberikan pelatihan soal kepada calon peserta ujian online dengan CBT. “Latihan sudah dua kali kami lakukan uji coba kepada siswa. Hasilnya siswa justru lebih percaya diri menggunkan CBT dar pada manual atau menggunakan lembar jawab komputer (LJK).

Jumlah siswa yang akan mengikuti ujian online di SMK 3 ada sebanyak 380. Dari jumlah tersebut pihaknya sudah menyediakan 150 komputer. “Selain juga sudah kami sediakan generator set (genset) untuk antisipasi pemadaman listrik,” tambahnya. (bud/fth)