TULUS : Anggota komunitas Berbagai Nasi Magelang tengah membagikan nasi pada kaum duafa. (Puput puspitasari/Radar kedu)
TULUS : Anggota komunitas Berbagai Nasi Magelang tengah membagikan nasi pada kaum duafa. (Puput puspitasari/Radar kedu)
TULUS : Anggota komunitas Berbagai Nasi Magelang tengah membagikan nasi pada kaum duafa. (Puput puspitasari/Radar kedu)

Berangkat dari kepedulian terhadap sesama, Komunitas Berbagi Nasi (BN) Magelang setiap Sabtu malam membagikan nasi bungkus kepada masyarakat yang kurang mampu. Seperti apa kisahnya?

PUPUT PUSPITASARI, Magelang

Anak muda tak selalu hura-hura. Anggota komunitas Berbagi Nasi (BN) Magelang ini contohnya. Suatu malam, mereka sibuk menggotong bungkusan nasi-nasi yang sudah dibawa dari rumah masing-masing.

Matanya, seolah tajam melihat kegelapan malam sudut kota, yang terdapat orang-orang yang masih sibuk mengais rezeki atau bahkan telantar.

Dua pasang kaki, melangkah menghampiri sasaran. Ada tukang becak, tukang ojek, gelandangan, penjual asongan maupun makanan keliling. Mereka sengaja menyentuh orang-orang kurang mampu untuk membagikan nasi.

Komunitas ini tidak ada pengurusnya. Semua adalah anggota. Mereka tak ingin ada kesenjangan dalam jabatan. Sebab, mereka kumpul ingin bersama walau dari kalangan yang berbeda.

Salah satu anggota, Eko Galih Aryono, 26, mengungkapkan BN Magelang dibentuk 5 Januari 2013. Komunitas tanpa backing, tanpa agenda rumit, hanya punya nama dan ide untuk mencapai harapan membantu sesama dengan jembatan berbagi nasi. Bisa dikatakan, komunitas ini terbentuk karena tertular “virus” salah satu komunitas BN di Bandung yang lebih awal terbentuk.
“Ada pemikiran bikin kegiatan positif malam Minggu (malming), yang biasanya nongkrong digeser ke hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk orang lain,” katanya, kemarin.

Dia prihatin melihat kenyataan di sekitarnya, masih banyak yang hidup serba kekurangan. Jangankan untuk makan enak, tidurpun masih banyak yang beralaskan tanah beratap langit. Kata dia, orang-orang itu, dipeluk oleh dinginnya malam.
“Tergerakklah untuk mengajak teman-teman lainnya. Informasi dari mulut ke mulut, lalu bikin facebook dan akhirnya sekarang anggotanya makin bertambah sekitar 30-an,” urainya.

Menurut Galih yang berprofesi sebagai pesulap ini, komunitas BN memiliki kegiatan rutin setiap hari Sabtu malam, yakni berbagi nasi bungkus yang dimulai pukul 22.00 malam hari. Menu-menunya juga sederhana, namun yang layak untuk diberikan orang lain.

“Tapi sebelum kita cabut, kita meeting point dulu menentukan arah ke mana rute yang akan dilewati, supaya satu orang tidak dapat dua nasi, jadi biar merata,” aku warga Palbapang, Kelurahan Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang itu.

Sementara itu, Guntur Heri Putranto, 40, anggota lain menambahkan, selain berbagi nasi pihaknya juga mengadakan pengobatan gratis. Profesinya sebagai seorang dokter, membuat dirinya ingin berbakti sosial kepada masyarakat khususnya lanjut usia.
“Kegiatan ini terlaksana di Desa Sumur Arum, Kecamatan Grabak, Kabupaten Magelang. Pengobatan gratis memang dikhususkan untuk lansia,” jelas warga Jalan Blimbing Raya no 6 Perum Kalinegoro itu.

Teknis para anggota terbilang unik. Kata Guntur, bagi yang tidak memiliki waktu, bisa menitipkan bungkusan nasi kepada anggota lain yang berangkat. Tapi bagi yang sedang bokek, bisa membantu yang berangkat. Nah, untuk yang bisa masak?
“Bisa juga membantu menyiapkan untuk teman-teman yang akan berangkat, dan yang berangkat itu nanti posting di grup untuk mengajak lebih banyak partisipan,” paparnya.

Selain itu, hal mengesankan dirasakan DD Putra Bayangkari, 19, yang merupakan warga Perumahan Lembah Hijau. Ikut komunitas BN menjadi hal yang tak bisa terpisahkan olehnya.

“Kita bisa makin mensyukuri hidup kita. Merasa senang karena bisa membantu orang lain, jadi hidup kita lebih bermanfaat,” ungkap pria yang masih berstatus mahasiswa ini.

Meski begitu, DD Putra merasa komunitasnya tak memiliki kendala apapun. Sebab, komitmen bersama persatuan, empati, simpati, toleransi dan fleksibelitas membuat para anggota tidak terlalu ambil pusing jika ada anggotanya tidak aktif.
“Setiap orang yang bergabung, semua welcome. Mereka sudah tahu komunitas ini adalah komunitas sosial, jadi tidak mengkotak-kotakan anggota jika tidak berangkat dengan alasan ini itu. Kita fleksibel dan menyadari kalau nggak berangkat pasti karena ada sesuatu yang tidak bisa ditinggal. Karena kembali lagi kepada niatan hari saat bergabung, ya untuk sosial bukan untuk ajang pamer, maupun eksistensi,” jelasnya.

Mewakili teman-temanya DD Putra menyampaikan harapan komunitasnya itu menjadi semakin besar. Dengan begitu, akan semakin banyak merangkul dan membantu masyarakat yang terbatas ekonominya. Dia bercerita, ada penerima nasi bungkus yang sampai terharu dengan aksi mereka.

“Kami adalah pejuang nasi. Sesuap nasi saja membantu mereka, apalagi sebungkus nasi yang bisa membuat mereka kenyang, maka besar pahala yang kita petik,” pungkasnya. (*/lis)