Modeling Condong Eksploitasi

168
MELENCENG : Fungsi kompetisi modeling mulai bergeser. Bukan lagi mencari prestasi, tapi mencari hadiah yang bisa mencapai jutaan rupiah. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
MELENCENG : Fungsi kompetisi modeling mulai bergeser. Bukan lagi mencari prestasi, tapi mencari hadiah yang bisa mencapai jutaan rupiah. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
MELENCENG : Fungsi kompetisi modeling mulai bergeser. Bukan lagi mencari prestasi, tapi mencari hadiah yang bisa mencapai jutaan rupiah. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Jagad modeling mulai condong ke arah eksploitasi. Tidak sedikit orang tua yang menyuruh anak mereka untuk mengais rezeki lewat kompetisi-kompetisi modeling yang menawarkan hadiah jutaan rupiah.

Prestasi bisa dibilang kebanggan. Tapi kadang justru disalahgunakan. Peluang untuk menggeser prestasi jadi ladang emas sangat besar di kancah modeling. “Biasanya, model senior gampang menjuarai kompetisi. Sayang, banyak orang tua model yang keenakan dengan hadiah yang didapat. Akhirnya, setiap ada kompetisi, anaknya pasti diikutkan dengan harapan bisa mendapakan uang. Bukan prestasi lagi,” kata pengamat modeling Bayu Ramli di sela-sela acara Pemilihan Model Valentine di Semarang Island, kemarin.

Hal-hal itu yang menurut Bayu menghambat perkembangan modeling di Kota Lunpia. Mereka tidak akan berhenti mengikuti kompetisi yang hampir saban bulan digelar. Praktis, peluang regenerasi semakin kecil.

Model yang langganan juara akan semakin tahu celah-celah untuk menarik juri. Tidak dipungkiri, kualitasnya memang pantas untuk memenangkan kompetisi. Tapi yang jadi masalah, mental model pemula akan semakin ngedrop. Mereka tidak akan ikut lomba selama pelanggan piala jadi pesaing di atas panggung. “Mau tidak mau, mereka harus menunggu masa kejayaan model tersebut melebur atau lepas dari kriteria umur,” tegasnya.

Bayu mengimbau kepada orang tua untuk mengarahkan anaknya menuju ke jenjang yang lebih bergengsi. Mendorong untuk menyelami lebih dalam lagi. Pasalnya, dewasa ini, profesionalisme model tengah dibutuhkan. Untuk peragaan busana, fotografi, bintang iklan, dan lain sebagainya.

“Jangan disuruh ikut lomba terus. Malah nanti stagnan, tidak berkembang. Coba digiring ke dunia profesional. Jika belum tahu caranya, ikutkan saja ke agensi modeling. Yang pasti harus hati-hati memilihnya karena sekarang banyak agensi yang abal-abal,” pesan Bayu. (amh/ric)