Mahar Seperangkat Alat Lukis

315
UNIK : Pernikahan seniman Borobudur Wawan Geni di Museum H Widayat berlangsung unik dan berbeda, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
UNIK : Pernikahan seniman Borobudur Wawan Geni di Museum H Widayat berlangsung unik dan berbeda, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
UNIK : Pernikahan seniman Borobudur Wawan Geni di Museum H Widayat berlangsung unik dan berbeda, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID– Pernikahan Untung Yuli Prastiawan, 33, dengan Swasti Handayani Putri, 32, begitu unik dan berbeda. Selain dari sisi prosesnya yang tak biasa mahar atau mas kawin yang diberikan juga tak umum.

Keunikan proses sakral itu bermula ketika ikrar akad nikah digelar di dalam museum H Widayat. Mempelai pria lalu naik ke kursi yang dihias dengan klaras (dedauan kering), lalu diarak mengelilingi museum dan mengitari patung Soekarno-Hatta di jalan pertigaan depan museum. Pengaraknya, belasan pemuda yang berlumuran lumpur tanah Borobudur.

Kemudian, mempelai pria dipertemukan dengan mempelai wanita tepat di depan museum Haji Widayat. Meraka lantas saling melempar daun sirih dan menginjak telur. Prosesi ini biasa dilakukan pada upacara pernikahan adat Jawa Tengah.
Mempelai pria lalu memberikan seperangkat alat lukis kepada mempelai wanita, berupa kanvas putih berukuran 1,5 meter x 1,5 meter dan dua kaleng cat minyak. Keduanya lalu melukis bersama dengan diiringi alunan lagu “When I Fall In Love” yang mengalun dari saksofon yang ditiup Keni.

Keduanya kemudian diarak bersama mengelilingi museum. Suasana semakin meriah dengan irama musik rebana yang mengiringi pasangan tersebut. Tak ayal, iring-iringan pengantin ini menarik perhatian warga yang melintas di jalan Mungkid-Borobudur itu.

Wawan Geni, panggilan akrab Untung Yuli Prastiawan, mengatakan mempersunting kekasihnya yang sudah ia kenal sejak 2009 lalu. Wawan yang berprofesi sebagai pelukis itu mengatakan sengaja memakai seperangkat alat lukis sebagai mas kawin yang diberikan kepada mempelai wanita. Sebab, kata Wawan, alat lukis sudah menjadi bagian hidupnya sebagai perupa di Borobudur.

“Seperangkat alat lukis ini saya berikan kepada istri, agar ia ikut merasakan dunia itu indah. Semua baik dan buruk dunianya bisa terlukis,” ucap Wawan, yang berasal dari Kauman, Desa Blondo, Kecamatan Mungkid, itu.

Tak hanya itu, dia juga bangga bisa melangsungkan pesta pernikahan di tempat yang menyimpan ratusan karya seni rupa Haji Widayat dan maestro-maestro seni rupa Indonesia lainnya. Terlebih, seluruh prosesi mendapat dukungan dari para seniman dari Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI).

Ketua KSBI Umar Chusaeni, menambahkan konsep acara pernikahan pasangan Wawan Geni dan Putri merupakan pernikahan yang unik dan menarik karena berlangsung di museum Haji Widayat yang sudah mendunia.

Selain itu sebagai seorang perupa, kata Umar, Wawan ingin menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat bahwa upacara pernikahan tidak sekadar seremonial tetapi mengandung makna bahwa seniman harus membumi, menyatu dengan alam dan dekat dengan segala lapisan masyarakat.

Dalam nikah itu, nuansa cokelat yang mendominasi prosesi pernikahan Wawan Geni dan Putri juga mengandung pesan bahwa sebagai seniman harus melakukan hal yang berbeda dan kreatif. Namun, tidak meninggalkan pakem dan tradisi Jawa yang sudah ada. Selain itu, Wawan dikenal sebagai pelukis yang senang menggunakan media sederhana namun unik seperti bara rokok dan arang obat nyamuk. (vie/lis)