IKAN IMPOR: Puluhan pedagang ikan segar, setiap hari membeli puluhan dus ikan impor, untuk dijadikan ikan olahan asapan atau pindang, melimpahnya persediaan ikan ikan impor, menjadi alternatif sendiri bagi para pedagang. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
IKAN IMPOR: Puluhan pedagang ikan segar, setiap hari membeli puluhan dus ikan impor, untuk dijadikan ikan olahan asapan atau pindang, melimpahnya persediaan ikan ikan impor, menjadi alternatif sendiri bagi para pedagang. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
IKAN IMPOR: Puluhan pedagang ikan segar, setiap hari membeli puluhan dus ikan impor, untuk dijadikan ikan olahan asapan atau pindang, melimpahnya persediaan ikan ikan impor, menjadi alternatif sendiri bagi para pedagang. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN, – Keluarnya Peraturan Menteri Kelautan Perikanan (Permen KP) Nomor 2 Tahun 2015, tertanggal 8 Januari 2015, tentang Larangan Penggunaan Pukat hela dan pukat tarik, berdampak pada melonjaknya permintaan ikan impor, utamanya jenis salem dan tongkol. Bahkan sejak sebulan terakhir, pasokan ikan impor di Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan dan Batang, melonjak hingga 400 persen.

Ikan impor yang dikemas dalam dus berukuran sekitar 30×50 sentimeter, dengan isi 90-100 ekor, dihargai Rp 120 ribu/dus (10 kilogram). Meski hargnya terus melonjak, namun permintaannya juga terus meningkat. Utamanya permintaan ikan jenis salem.
Setiap hari lebih dari 5 truk menurunkan 6 ton ikan impor (setiap truk) kepada pengepul pedagang ikan import. Pengepul langsung menjual kepada pedagang ikan eceran, dengan harga Rp 140 ribu per dusnya yang berisi 90 sampai 100 ikan salem. “Harga ikan salem sudah naik Rp 30 ribu per dusnya, dari harga semula Rp 90 ribu per dus. Kenaikan harga ini, katanya menyesuaikan harga uang dollar,” ungkap Sarto,34, pedagang ikan eceran.

Sarto juga mengatakan, meski harga ikan impor terus naik, dirinya masih bisa mengambil untung cukup banyak. Karena ikan salem impor tersebut diolah menjadi ikan asap dan dijual per ikan seharga Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per ekor.

Menurutnya jenis ikan salem secara bentuk menyerupai ikan layang, yang sebelumnya banyak di temui di tempat pelelangan ikan. Namun sejak sebulan terakhir, ikan layang sudah sulit ditemukan. Sehingga banyak pedagang ikan asap olahan beralih ke ikan salem impor tersebut.“Kalau rasa lebih manis dan segar ikan layang, untuk diolah menjadi ikan asap. Jika dibandingkan dengan ikan salem impor yang diolah serupa. Tapi secara keuntungan, lebih untung ikan layang, karena harganya lebih murah,” ujar Sarto, warga Desa Karangasem, Batang.

Poniah,54, Koordinator Pedagang Ikan Impor Pekalongan mengungkapkan, sejak awal bulan Januari atau adanya Permen KP Nomor 2 tahun 2015, dirinya mendatangkan 32 ton ikan impor jenis salem dalam sehari. Menurutnya tingginya pasokan ikan import negara Tiongkok tersebut, karena jenis ikan salem dan tongkol sulit ditemukan pada tempat pelelangan ikan.“Sebelumnya pasokan ikan impor jenis salem dan tongkol, satu hari hanya 6 hingga 12 ton, itu pun dibagi 3 pedagang. Sekarang sejak awal Januari lalu, per hari 32 ton dan habis dalam waktu 3 jam,” ungkap Poniah, Minggu (8/3) pagi kemarin.

Poniah menambahkan, meski harga ikan impor sering berubah, pedagang ikan eceran tidak terlalu mengiraukan karena sedikitnya pasokan di tempat pelelangan ikan (TPI). Dulu ketika pasokan ikan layang melimpah di TPI, ikan impor sempat mengalami penuruan. Tapi kondisi tersebut tidak berpengaruh pada pasokan ikan impor. “Permintaan jenis ikan salem sangat tinggi, karena jenis ikan yang meyerupai ikan layang ini sangat diminati masyarakat,” lanjut Poniah.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Koperasi Kota Pekalongan, Darwati menuturkan, bahwa hingga saat ini pihaknya belum menemukan adanya impor masuk ke wilayah Pekalongan secara ilegal baik dalam bentuk ikan segar, ataupun olahan. “Selama ini kami belum menemukan, ataupun menerima laporan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Pekaloingan, mengenai adanya pasokan ikan impor dari Cina ataupun negara tetangga lainnya, secara ilegal. Kemungkinan jenis ikan impor tersebut memang masuk ke Kota Pekalongan untuk memenuhi kebutuhan sejumlah produsen ikan olahan,” tutur Darwati.

Sementara Pengurus Harian HNSI DPC Kota Pekalongan, Rustono mengatakan, pihaknya tidak keberatan dengan masuknya ikan impor dari China tersebut, jika memang untuk memenuhi industri ikan olahan dan tidak mengganggu penjualan ikan dalam negeri, khususnya nelayan Kota Pekalongan.”Sebatas memang ikan tersebut masuknya juga legal, dan tidak menganggu penjualan ikan, kenapa harus kita larang,” kata Rustono. (thd/zal)