KAJEN-Meski diberikan kepercayaan untuk mengambil barang dagangan oleh majikannya, pria bernama Ahmad Zaenuri alias Gendut, 35, justru menilap barang. Hasilnya penjualan bernilai ratusan juta rupiah, justru digunakan untuk kepentingan pribadi. Warga Dukuh Candi Desa Rowosari Kecamatan Ulujami Kebupaten Pemalang tersebut, akhirnya dijebloskan ke penjara.

Informasi yang dihimpun Radar Semarang, penipuan itu terjadi ketika tersangka mengambil barang dagangan 237 lusin celana jins. Namun setelah barang habis terjual, tersangka tidak menyetorkan uang kepada majikannya, Wihanoto, warga Desa Ketandan Kecamatan Wiradesa.

Saat dimintai keterangan petugas kepolisian, Jumat (6/3) kemarin, Gendut mengatakan bahwa dirinya mengambil ratusan lusin barang pada 11 Februari 2015 lalu. “Saya mengambil barang, perjanjiannya bayar setelah barang terjual,” ungkapnya.

Ratusan lusin jins merek Rifki tersebut, lanjutnya, dijual di Jakarta dengan harga 30 persen lebih murah dari pedagang lainnya. Kontan saja, dalam waktu singkat, barang dagangan senilai Rp 300 juta itu ludes terjual. “Saya sudah bayar, tapi baru Rp 81 juta. Sisanya sudah habis untuk keperluan sehari-hari,” kata dia.

Residivis kasus penipuan yang pernah mendekam enam bulan di penjara itu, akhirnya kembali ngandang. Menurut keterangan korban, Wihanoto, upaya hukum terpaksa ditempuh lantaran dengan cara kekeluargaan gagal dilakukan. “Saya melaporkan ke polisi agar ditindak sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

Tanpa perlawanan, petugas Polres Pekalongan melakukan penangkapan tersangka. Dalam penindakan tersebut, berhasil diamankan barang bukti berupa dua lembar nota pengambilan barang tertanggal 31 Januari 2015.

Kasatreskrim Polres Pekalongan, AKP Berry mengatakan bahwa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 378 jo 372 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara. “Tersangka sudah kami tahan, barang bukti sudah kami amankan. Tinggal menunggu proses hukum selanjutnya,” terangnya.

Terkait kejadian itu, Kasubbag Humas AKP Guntur Tri Harjani menekankan kepada masyarakat, agar lebih berhati-hati dalam menjalankan usaha. “Semua tentu ada risikonya. Namun dalam menjalankan usaha, sebaiknya lebih berhati-hati. Karena pelaku kejahatan bisa saja merupakan orang kepercayaan,” ujarnya. (hil/ida)