PENGALAMAN BERHARGA: Tiga pemain Bandung Utama saat mengunjungi anak-anak yang mengalami cacat ganda kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
PENGALAMAN BERHARGA: Tiga pemain Bandung Utama saat mengunjungi anak-anak yang mengalami cacat ganda kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
PENGALAMAN BERHARGA: Tiga pemain Bandung Utama saat mengunjungi anak-anak yang mengalami cacat ganda kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Tim Basket Bandung Utama pengalaman berharga di luar basket, ketika menggelar charity di Panti Asuhan Cacat Ganda Yayasan Soegijapranata, dalam rangkaian event IndiHome NBL seri Semarang kemarin. Tiga pentolan Bandung Utama yakni Surliyadin, Andre Tiara dan Luke Martinus jadi makin sadar bahwa banyak anak-anak yang butuh perhatian khusus yang butuh bantuan.

“Kami jadi sangat bersyukur dikaruniai tubuh seperti ini. Diberi kelengkapan untuk mendapat prestasi dari basket. Ketika melihat mereka, jadi makin sadar. Kembali refleksi diri sendiri, di luar sana banyak orang-orang yang butuh perhatian lebih,” ungkap Andre.

Kunjungan-kunjungan untuk memberi tali asih, kata Andre, memang sudah jadi agenda rutin di setiap kota yang menjadi tuan rumah Indihome National Basketball League (NBL) Indonesia. Tapi baru kali ini mengunjungi panti asuhan yang menampung para penyandang cacat ganda. “Biasaya ke panti jompo, pondok pesantren, dan lain sebagainya. Baru sekarang ke tempat seperti ini. Jadi banyak pesan moral yang kami dapatkan,” imbuhnya.

Agenda charity runtin ini, kata General Manager BU Fauza Nurdin, merupakan bagian dari berbagi kebahagiaan dari sepak terjang yang telah dialami. Disamping mengembangkan hati nurani setiap punggawa BU untuk lebih banyak bersyukur, event ini jadi semacam tradisi menebar benih kebaikan di setiap kota se-Indonesia. “Kebetulan, di Semarang ada dua yayasan yang sudah jadi ‘langganan’ sponsor utama kami, yaitu JNE, untuk bersedekah,” ungkapnya.

Ya, setelah bertandang ke Panti Asuhan Cacat Ganda Yayasan Soegijapranata, Fauza dkk mengajak 20 anak dari Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Darun Najah untuk makan siang di Hotel Gracia. “Anak yatim memang menjadi value yang harus dihargai,” tegasnya. (amh/smu)