LINCAH : Penampilan Galih Wahyu Sejati yang memainkan lakon wayang kulit Gatotkaca Lahir dalam kegiatan pelestarian seni dan budaya di SMPN 1 Wonosobo, Jumat (6/3). (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
LINCAH : Penampilan Galih Wahyu Sejati yang memainkan lakon wayang kulit Gatotkaca Lahir dalam kegiatan pelestarian seni dan budaya di SMPN 1 Wonosobo, Jumat (6/3). (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
LINCAH : Penampilan Galih Wahyu Sejati yang memainkan lakon wayang kulit Gatotkaca Lahir dalam kegiatan pelestarian seni dan budaya di SMPN 1 Wonosobo, Jumat (6/3). (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

WONOSOBO – Usai Ujian Tengah Semester (UTS), SMP Negeri 1 Wonosobo menggelar kegiatan pelestarian seni budaya pertunjukan wayang kulit. Menariknya, dalam pertunjukan itu semua pemain para siswa. Sebagai dalang, Galih Wahyu Sejati siswa kelas XII. Sedangkan para niaga para siswa kelas XIII dan IX.

Meski dimainkan oleh para siswa, pertunjukan yang dihelat di halaman SMP Negeri 1 Wonosobo itu menyita perhatian warga. Pertunjukan berdurasi 3 jam, dipadati penonton. Dalam pertunjukan ini, Galih yang sudah mendalami seni pedalangan sejak masih duduk di bangku SD, mengangkat lakon Gatotkaca Lahir.

Hartoyo, 65, guru ekstrakurikuler kesenian tradisional mengatakan, untuk mempersiapkan pertunjukan ini butuh waktu mencapai 1 bulan, utamanya untuk niaga. Karena para siswa tidak semuanya memahami seni pertunjukan wayang kulit. Prosesnya, untuk para niaga dikenalkan lakon, urutan cerita hingga musik iringan yang dibutuhkan.

“Kalau untuk dalang tidak ada masalah, karena memang sudah sejak SD menguasai seni pedalangan dan sudah sering pentas di tingkat nasional,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo One Andang Wardoyo mengaku sangat terkesan dengan pertunjukan wayang yang dibawakan siswa-siswi SMP 1 Wonosobo. Kegiatan tengah semester ini merupakan wujud apresiasi sekolah kepada para peserta didiknya dalam mengamalkan pelajaran di kelas, “Acara semacam ini perlu apresisasi lebih dari berbagai kalangan, baik pemerintah maupun pihak sekolah,” ujarnya Jumat (6/3).

Menurutnya, proses belajar mengajar akan berlangsung selama kita masih hidup. Kegiatan belajar yang dilakukan kemarin merupakan wujud dari kepedulian para dewan guru terhadap penanaman dan penguatan terhadap budaya dan karakter para peserta didik. “Belajar tidak harus di kelas, bisa di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.”

Kepala SMP N 1 Wonosobo Parwanto mengatakan, acara ini akan berlangsung selama 2 hari. Pada hari pertama pihak sekolah menggelar acara pentas budaya wayang kulit dan bazar jajanan pasar serta pakaian layak pakai. Kemudian pada hari kedua, pihak sekolah mengadakan beberapa penyuluhan yang bekerjasama dengan beberapa instansi. Bentuk penyuluhan tersebut antara lain, undang-undang lalu lintas, bahaya narkoba dan HIV/AIDS. (ali/mg5/ton)