BUTUH PERHATIAN : Bupati Dachirin Said dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak Hari Adi Soesilo mendampingi LSM Belanda yang mengunjungi penanganan abrasi di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
BUTUH PERHATIAN : Bupati Dachirin Said dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak Hari Adi Soesilo mendampingi LSM Belanda yang mengunjungi penanganan abrasi di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
BUTUH PERHATIAN : Bupati Dachirin Said dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak Hari Adi Soesilo mendampingi LSM Belanda yang mengunjungi penanganan abrasi di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK – Persoalan abrasi yang terjadi di pesisir pantai Sayung Demak sepertinya menjadi perhatian public. Buktinya, LSM Belanda bersama Kementerian Kelautan melakukan peninjauan sekaligus evaluasi atas penerapan konstruksi kayu dalam menangani bencana abrasi di pesisir Pantai Sayung, utamanya di wilayah Desa Timbulsloko.

Sebelumnya, untuk menahan abrasi LSM tersebut telah membantu memasang konstruksi hybrid engineering yang terbuat dari bahan kayu dan ranting-ranting. Konstruksi itu berfungsi untuk memecah ombak. Tekhnik untuk perangkap lumpur itu sebelumnya telah diujicoba selama 2 tahun terakhir. Penanganan dengan metode tersebut ternyata masih ada kelemahannya, yakni tidak tahan terkena gelombang laut.

Meski demikian, lumpur yang terkumpul sedikit banyak sudah bisa ditanami mangrove. Kabid Kelautan pada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak, Suharto mengungkapkan, untuk mengatasi dampak abrasi di Desa Timbulsloko sebelumnya telah dipasang hybrid engineering dengan volume sepanjang 300 dan 400 meter. Setelah dievaluasi, sedianya akan ditambah lagi menjadi 1 kilometer. “Namun, perlu desain lagi supaya tahan terhadap gempuran ombak laut,”katanya.

Jika nanti bisa lebih baik, maka tekhnik serupa akan diterapkan di daerah lain yang juga terkena abrasi. Menurutnya, LSM peduli lingkungan pesisir tersebut telah malang melintang turut mengatasi abrasi diberbagai negara di Asia dan Eropa. “Karena itu, Demak ini termasuk sebagai ajang laboratorium uji coba dalam mengatasi abrasi,”katanya.

Sementara itu, Kepala DKP Demak, Hari Adi Soesilo menambahkan, pihaknya bekerjasama dengan pemerintah Belanda untuk ikut mengatasi abrasi di wilayah pesisir Sayung. Diantaranya melalui pembangunan yang ramah lingkungan dengan cara tetap memperhatikan kondisi alam sekitar. “Ini untuk mengurangi kerusakan lingkungan akibat abrasi,”katanya.

Kedepan, kata dia, akan ada lagi pembangunan alat pemecah ombak (APO) dari bis beton maupun hybrid engineering dari kayu tersebut. “Kita patut bersykur karena pesisir Demak akan menjadi laboratorium penanganan abrasi ini,” katanya. (hib/fth)