Afrilia Nur Chois. (AHMAD FAISOL/RADAR SEMARANG)
Afrilia Nur Chois. (AHMAD FAISOL/RADAR SEMARANG)
Afrilia Nur Chois. (AHMAD FAISOL/RADAR SEMARANG)

TAK banyak orang yang rela melepas pekerjaan yang telah mapan dijalani. Namun bagi Afrilia Nur Chois hal tersebut tetap dilakukan hanya untuk sekadar menuruti sebuah hobi. Justru dari hobi itulah kemudian yang mengantarkan dirinya meraup pundi-pundi uang.

Ya, gadis manis kelahiran Semarang, 5 April 1991 ini memilih untuk keluar dari pekerjaan sebagai pegawai bank untuk beralih menekuni usaha bridal. Yakni, usaha menyediakan baju untuk pernikahan maupun pesta untuk dijual ataupun disewakan. “Sebelumnya saya memang hobi menggambar dan menjahit. Lalu, saya kembangkan sendiri hobi tersebut,” ujarnya kepada Radar Semarang.

Lia –sapaan akrabnya– mengaku sangat tergila-gila dengan tata busana. Meski tidak mempunyai latar belakang pendidikan desain, ia belajar secara otodidak dari buku dan internet.

“Pertama-tama saya mulai menggambar sebuah gaun. Ternyata banyak yang suka. Kemudian saya aplikasikan dalam bentuk gaun jadi,” ungkapnya bangga.

Satu minggu pertama, Lia berpromosi dengan hanya membawakan sampel baju yang siap pakai kepada teman-temannya. Jika tertarik, mereka akan memesan sesuai dengan model dan rancangan yang diinginkan. “Sejak saat itu, saya tidak berpromosi lagi. Karena sudah dipromosikan pelanggan,” katanya.

Salah satu nilai lebih dari produk Lia adalah selalu dikemas dengan model yang berbeda satu dengan yang lain. Jadi, tidak ada produk yang sama kecuali dengan permintaan pelanggan. “Selain itu, dari segi harga selalu lebih rendah dibanding produk lain dengan kualitas yang sama,” ungkapnya.

Putri pasangan Buchori dan Eni Islamiah ini sekarang fokus menekuni usaha yang diberi nama L’Chois Brides. Ia bahkan sudah berkali-kali menerima pesanan dari beberapa klien. Tak hanya di Kota Semarang, bahkan sampai Jakarta. Uniknya, kegiatan tersebut ia jalani sendiri. “Ya, masih dalam proses merintis usaha,” imbuhnya.

Hal yang paling berkesan bagi Lia adalah ketika hasil karyanya dipakai dalam suatu acara penghargaan. Menurutnya, ada semacam kepuasaan karena karyanya benar-benar diakui orang lain. “Selain itu, dapat menjadikan orang-orang penasaran dengan siapa yang membuatnya,” pungkas pemilik moto hidup: jangan berhenti untuk bermimpi meskipun mimpi itu mustahiil. Sebab, life will find a way ini. (fai/aro)