Bujong, Tongkrongan Sumber Ide

374
SUASANA BEDA: Suasana di Kafe Bujong Tembalang yang selalu ramai pengunjung. (RICKY DOUGLAS/RADAR SEMARANG)
SUASANA BEDA: Suasana di Kafe Bujong Tembalang yang selalu ramai pengunjung. (RICKY DOUGLAS/RADAR SEMARANG)
SUASANA BEDA: Suasana di Kafe Bujong Tembalang yang selalu ramai pengunjung. (RICKY DOUGLAS/RADAR SEMARANG)

TEMBALANG- Para mahasiswa sekarang memang kreatif. Mereka tak hanya melulu kuliah, tapi juga menekuni bisnis. Salah satu tempat tongkrongan yang dikelola mahasiswa adalah Kafe Bujong atau bubur kacang ijo dan pancong.

Kafe yang baru beroperasi lima bulan di bilangan Jalan Sirojudin Tembalang ini dirintis oleh tiga pemuda kreatif. Mereka adalah Fandi Ahmad, 22, mahasiswa Psikologi Unika Soegijapranata; Gilang Mahardia, 22, mahasiswa Unika Soegijapranata, dan Sigit Heriadi, 23, alumnus Universitas Diponegoro (Undip).

Menurut salah satu owner, Fandi Ahmad, pendirian kafe tersebut terinspirasi dari warung kopi (warkop) yang banyak betebaran di Jakarta. “Banyak anak muda mendapatkan ide-ide saat nongkrong di warkop. Sehingga kami pun membuka kafe ini, dengan harapan selain sebagai tempat nongkrong, juga mampu menghasilkan ide-ide yang bermanfaat,” katanya kepada Radar Semarang.

Sejak 19 Oktober 2014, kafe tersebut didirikan. Kafe menempati bangunan berukuran 7 x 13 meter persegi, dengan kapasitas kurang lebih 30 pengunjung. Ia dan dua temannya memilih bubur kacang ijo dan pancong sebagai menu utama, karena khusus kue pancong jarang ditemui di Kota Semarang.

Hampir setiap hari, kafe yang buka 24 jam, kecuali hari minggu buka mulai pukul 18.00 ini, selalu ramai pengunjung. Mayoritas anak sekolah dan mahasiswa. Kafe ini memang menawarkan sensasi berbeda. Sebab, tongkrongan ini juga dilengkapi fasilitas wifi gratis, TV kabel, good service, dan tentunya menu andalan kue pancong.

“Kafe Bujong ini beda sama kebanyakan warung burjo lainnya, bisa jadi tempat nongkrong yang asyik, dan tentunya rasa pancongnya yang bikin ketagihan,” tutur Hanura Kusuma Wardhani, 22, salah satu pengunjung.

Saat ini, kafe ini memiliki 14 karyawan yang membantu operasional kerja. Rinciannya, bagian dapur 9 karyawan yang dibagi dalam 3 shift; 2 waiters untuk 2 shift; dan 3 karyawan di posisi kasir untuk 3 shift. “Kalau anak kuliahan gak sedang libur kira-kira omsetnya sekitar 4 jutaan per hari,” ujar Sigit, salah satu owner. (mg22/aro)