Berharap Terminal Bayangan Tembalang Ditertibkan

236
SEMRAWUT: Keberadaan terminal bayangan angkot di sekitar patung kuda Universitas Diponegoro (Undip) yang kerap menjadi penyebab kemacetan di sepanjang jalan tersebut, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)
SEMRAWUT: Keberadaan terminal bayangan angkot di sekitar patung kuda Universitas Diponegoro (Undip) yang kerap menjadi penyebab kemacetan di sepanjang jalan tersebut, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)
SEMRAWUT: Keberadaan terminal bayangan angkot di sekitar patung kuda Universitas Diponegoro (Undip) yang kerap menjadi penyebab kemacetan di sepanjang jalan tersebut, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)

NGESREP – Keberadaan terminal bayangan angkutan kota (Angkot) di kawasan Tembalang, tepatnya di sebelah patung Diponegoro yang menuju ke Universitas Diponegoro (Undip) banyak dikeluhkan pengendara. Posisi parkir angkot yang kerap memakan badan jalan sangat mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

Tidak hanya itu, pengendara terkadang harus dibuat emosi ketika angkot-angkot tersebut hendak parkir tanpa melihat kondisi lalu lintas di area sekitar. Seperti apa yang dialami oleh Rosyidi Siswanto.

Mahasiswa Undip jurusan Sastra Indonesia semester akhir tersebut berulangkali harus mengelus dada lantaran angkot yang berasal dari arah Undip hendak parkir tanpa mengeluarkan peringatan (sein) saat hendak berbelok ke lokasi ngetemnya angkot-angkot.

“Seingat saya sudah 5 kali saya alami. Angkot dari arah kampus (Undip) yang semula di tengah jalan tiba-tiba belok tanpa melihat kanan kiri. Angkot tersebut kalau berbelok jarang menggunakan reting. Itu sangat membahayakan sekali bagi pengendara lain,” ujar Rosyidi, Jumat (6/3).

Hal senada juga diungkapkan oleh warga sekitar, Fitri Febrianti. Keberadaan terminal angkot tersebut kerap membuat kemacetan disepanjang jalan menuju Undip itu. Ironisnya, selama ini belum ada penertiban terkait keberadaan angkot tersebut.”Yang paling jengkel kalau pagi hari. Saat kita hendak mengantarkan anak ke sekolahm, sesampainya di lampu merah (patung kuda) pasti macet. Padahal kita buru-buru. Saya pernah menegur beberapa supir angkot itu, namun mereka malahan melawan,” ujar Fitri dengan nada kesal.

Menurut Fitri, keberadaan terminal angkot tersebut harus segera ditertibkan. Pasalnya, selain merugikan pengendara karena macet, beberapa warga juga takut karena perilaku beberapa sopir angkot yang terkesan urakan.”Kita tahu mereka mencari makan. Tapi tidak lantas seenaknya. Jalan itu kan milik umum, semua bebas untuk melintas, tetapi jangan lantas seenaknya dijalan dan merugikan orang lain. Saya sebagai warga dan sekaligus pengguna jalan sangat prihatin dengan kondisi tersebut,” lanjutnya.

Sementara itu berdasarkan pantauan Radar Semarang, petugas kepolisian yang berjaga-jaga di pos persis di depan patung Diponegoro, terkesan acuh atas kondisi tersebut. Padahal pada saat itu terjadi kemacetan karena ulah angkot yang parkir sembarangan.

Namun, bagi pengguna jasa angkutan umum, keberadaan angkot di sekitar patung Diponegoro sangatlah membantu. Seperti apa yang dikatakan oleh Krisna Yudha. Mahasiswa Undip Fakultas Peternakan dan Pertanian tersebut merasa terbantu dengan keberadaan angkot di kawasan itu.

Namun, menurutnya keberadaan angkot perlu dilakukan penataan agar tidak menimbulkan masalah. “Setiap hari saya selalu naik angkot ketika berangkat kuliah. Sangat membantu memang. Namun jika banyak yang mengeluhkan tentang keberadaannya, ya jangan serta merta di non aktifkan. Di tata saja yang lebih baik. Karena bagi mahasiswa yang tidak membawa kendaraan, angkot sangat membantu,” ujar krisna. (ewb/zal)