Angin Kencang, Timbulkan Suara Bising

126
MERESAHKAN: Banyak tower berdiri di kawasan Bukit Sari. Keberadaan tower tersebut juga dikhawatirkan oleh warga sekitar, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)

MERESAHKAN: Banyak tower berdiri di  kawasan Bukit Sari. Keberadaan tower tersebut juga dikhawatirkan oleh warga sekitar, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)
MERESAHKAN: Banyak tower berdiri di kawasan Bukit Sari. Keberadaan tower tersebut juga dikhawatirkan oleh warga sekitar, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)

SUMURBOTO – Keberadaan lima tower di kelurahan Sumurboto, dikeluhkan warga sekitar. Beberapa warga mengaku keberadaan tower tersebut kerap membuat bising saat terjadi angin kenjang. Tiupan angin yang menghantam tower mengeluarkan bunyi-bunyian yang sangat memekakan telinga.

Hal tersebut diungkapkan oleh sejumlah warga yang rumahnya berdekatan dengan berdirinya tower tersebut. Seperti halnya dikeluhkan Armadi. Warga RT 1 RW 1 itu mengaku terganggu saat hujan disertai angin kencang mengguyur daerah tersebut.“Kalau pas kena angin kencang suaranya ngiiiiiiiiiiing….ngiiiiing. Seperti siulan tetapi suaranya keras sekali. Apalagi saat malam hari, di jamin orang yang ada di sekitar tower ketika mendengar suara itu sulit untuk tidur,” ujar Armadi yang mengaku telah beberapa kali melaporkan hal tersebut kepada ketua RT setempat, agar menyampaikan langsung ke pemilik tower.

Keluhan senada juga dikatakan Sugiono. Pihaknya merasa was-was ketika cuaca ekstrem.“Kekhawatiran itu jelas saat ada angin kencang. Takutnya warga, nanti akan terjadi sesuatu hal yang buruk. Mengingat rumah saya persis di belakang berdirinya tower itu,” ujar Sugiono.

Ditemui terpisah, Ketua RT 1 RW 1, Sutardi mengatakan beberapa keluhan warga tersebut memang sudah ia laporkan kepada penjaga tower. Bahkan ia sempat mengajak penjaga tower tersebut untuk melihat kondisi di lapangan saat angin kencang meniup tower tersebut.“Memang benar, beberapa warga yang rumahnya di belakang tower persis itu kerap mengeluh tentang suara nyaring dari tower itu saat ditiup angin kencang. Saya juga sudah melaporkannya kepada petugas di tower tersebut,” ujar Sutardi.

Dikatakan Sutardi, masing-masing tower itu didirikan pada waktu yang tidak bersamaan. Sehingga terkait izin pendirian pihaknya tidak mengetahui secara pasti, sebab ia baru menjabat ketua RT pasca tower tersebut berdiri.“Tower ada yang berdiri pada 1996, 2001, 2006. Masalah perizinan, saya dulu tidak tahu karena saya RT baru. Tetapi saat mendirikan setahu saya itu izin warga dahulu. Perpanjangan izinnya tergantung ada 5 tahun, 2 tahun, 3 tahun sekali,” katanya.

Ke lima tower yang berdiri di Kelurahan Sumurboto yaitu tower milik Indosat, Trans 7, dan Telkomsel, Smartfren. Sedangkan tanah yang digunakan untuk mendirikan tower tersebut pada awalnya merupakan tanah warga sekitar yang dibeli oleh pihak pemilik tower.“Indosat di sini memiliki 2 tower. Jaman dulu sudah perjanjian dengan warga bahwa pihak pemilik tower akan mengganti kerusakan serta apapun yang dialami warga terkait berdirinya tower tersebut melalui asuransi,” katanya.

Sutardi mengatakan, warga kini merasa sedikit tenang dengan adanya Peraturan Daerah tentang berdirinya sebuah tower di kawasan padat lingkungan. Menurutnya, awal berdirinya tower tersebut pihaknya belum mengetahui secara pasti terkait perizinan pendirian tower apakah sudah sesuai dengan perda yang berlaku saat itu atau belum.“Kalau sekarang Perda pendirian tower kan sudah ada. Nah itu yang membuat kita bingung. Karena tanah berdirinya tower itu sekarang sudah menjadi pemilik tower itu. Kalau izin HO (Hinderordonnantie) sudah ada,” katanya.

Oleh sebab itu, ia berharap kejelasan tentang izin berdirinya sebuah tower yang sesuai dengan Perda dapat disosialisasikan ke warga setempat. Sebab, berdirinya tower tersebut kini juga di khawatirkan oleh warga sekitarnya.“Terkait perpanjangan perizinan HO sering molor. Kita juga tidak tahu, izin mereka pada pemerintah sekarang bagaimana, warga juga tidak tahu. Perpanjangan HO kerap diperpanjang seingat yang punya tower saja,” katanya.

Menurut Sutardi, perpanjangan izin HO seharusnya dapat dilakukan rutin sesuai dengan ketentuan. Ia mencontohkan beberapa tower tersebut, terkait izin HO kerap molor. “Seperti tower smartfren kalau tidak kita tanyakan soal izinnya juga mereka terkadang lupa memperpanjang izin HO. Saya sering komunikasi dengan mereka yang memiliki tower. Kalau ada apa-apa kan kasihan warga,” katanya.

Sementara itu, Camat Banyumanik, Kukuh Sudarmanto mengatakan berdirinya tower di daerah Bukitsari menurutnya tidak ada masalah, asal pengelola tower selalu mengecek fisik dari tower tersebut agar tidak tercipta kekhawatiran di warga sekitar.“Selain itu, pemilik tower juga handaknya memperhatikan terkait perijinan terhadap pemerintah serta warga sekitar tower. Sehingga keamanan dan gangguan yang lain dapat terpantau dan terkawal. Kami juga sering sidak ke lokasi tower memastikan kondisi warga,” ujar Kukuh. (ewb/zal)

Silakan beri komentar.