Terlibat Narkoba, Siswa Jangan Dikeluarkan

157
PERANGI NARKOBA : Kabid Pencegahan BNN Jateng Susanto MM saat memberikan pengarahan tentang bahaya narkoba di hadapan guru dan Kepala Sekolah se-Kota Semarang. (JPNN)
PERANGI NARKOBA : Kabid Pencegahan BNN Jateng Susanto MM saat memberikan pengarahan tentang bahaya narkoba di hadapan guru dan Kepala Sekolah se-Kota Semarang. (JPNN)
PERANGI NARKOBA : Kabid Pencegahan BNN Jateng Susanto MM saat memberikan pengarahan tentang bahaya narkoba di hadapan guru dan Kepala Sekolah se-Kota Semarang. (JPNN)

SEMARANG – Badan Nasional Narkotika (BNN) Jateng meminta kepada para guru dan sekolah yang ada di provinsi ini, khususnya di Kota Semarang untuk serius membantu memantau kasus penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekolah. Bila ada siswanya yang terlibat dan menjadi korban penyalahgunaan narkoba diharapkan untuk tidak di mutasi atau dikeluarkan dari sekolahnya.

“Mengeluarkan siswa dari sekolahnya bukan sebuah solusi, karena korban dari narkoba harus direhabilitasi, bukan untuk dipenjarakan. BNN Jateng siap membantu merehabilitasi apabila ada siswa yang terlibat narkoba, asal tidak menjadi pengedar,” tegas Kabid Pencegahan BNN Jateng Susanto SH MM saat memberikan penyuluhan tentang “Bahaya Narkoba” di hadapan guru SMA dan kepala sekolah se-Kota Semarang di SMK Negeri 7, Kamis (5/3).

Menurut Susanto, saat ini pecandu narkoba di Jateng rata-rata per tahunnya mencapai 5 ribu orang. Di antaranya 70 persen para pekerja, 22 persen pelajar dan mahasiswa, 6 persen rumah tangga dan 2 persen para penjaja seks dan anak jalanan (anjal). “Pelajar dan mahasiswa ada di urutan kedua, dan ini juga menjadi perhatian BNN Jateng,” jelasnya.

Ditegaskan, BNN Jateng saat ini juga sedang melakukan pemantauan di sekolah yang rawan peredaran narkoba khususnya di wilayah utara. Dan penelitian ini berdasarkan riset sederhana yang dilakukan BNN yang dilihat dengan tingkat pengangguran di sekitarnya juga tinggi. “Kita imbau sekolah-sekolah di wilayah utara untuk meningkatkan kewaspadaannya bila ada pengedar yang mencoba merusak generasi pelajar kita,” tegasnya.

Menanggapi pertanyaan para guru antisipasi narkoba dan keamanan di sekolah, Susanto mengimbau semua sekolah swasta dan negeri harus ketat dalam pengawasan terhadap siswanya. “Sekolah ketat dan tidak disiplin bisa dilihat dari pintu gerbangnya yang mudah dimasuki orang luar. Mestinya gerbang sekolah harus dijaga ketat, ada tamu atau orang asing diperhatikan,” urainya.

Susanto menegaskan, pihaknya juga dalam waktu dekat akan melakukan berbagai tes urine di sekolah-sekolah. Tujuannya untuk menyelediki lebih dalam narkoba masuk di sekolah. “Narkoba yang rawan dikonsumsi siswa biasanya jenis obat psikotropika, pil koplo, obat anti gila dan obat tersebut biasanya digunakan di rumah sakit,” jelasnya. (gus/jpnn/ric)