Najib Pasrah, Prayogo Ajukan Eksepsi

189
SIDANG PERDANA: Terdakwa Ahmad Naji mendengarkan dakwaan saat sidang perdana di Pengadilan Tipikor Semarang kemarin. (kanan) Terdakwa Sri Prayogo keluar dari ruang siang. (FOTO-FOTO: JOKO SUSANTO/RADAR SEMARANG)
SIDANG PERDANA: Terdakwa Ahmad Naji mendengarkan dakwaan saat sidang perdana di Pengadilan Tipikor Semarang kemarin. (kanan) Terdakwa Sri Prayogo keluar dari ruang siang. (FOTO-FOTO: JOKO SUSANTO/RADAR SEMARANG)
SIDANG PERDANA: Terdakwa Ahmad Naji mendengarkan dakwaan saat sidang perdana di Pengadilan Tipikor Semarang kemarin. (kanan) Terdakwa Sri Prayogo keluar dari ruang siang. (FOTO-FOTO: JOKO SUSANTO/RADAR SEMARANG)

TERDAKWA SRI PRAYOGA (1)web

MANYARAN – Sidang perdana kasus dugaan korupsi pembangunan Gedung Diklat Rumah Sakit Paru dr Ario Wirawan (RSPAW) Salatiga digelar di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (5/3). Sidang dengan terdakwa Kepala Bagian Keuangan yang juga pejabat pembuat komitmen (PPKom) Ahmad Najib, dan Direktur CV Heksa Prima Inovasi Sri Prayogo itu digelar terpisah dengan agenda pembacaan surat dakwaan.

Selama sidang yang berlangsung selama satu jam lebih mulai pukul 11.02-12.05 itu, terdakwa Ahmad Naji terlihat menundukkan kepala. Ia seolah sudah pasrah atas kasus yang menjeratnya. Ia tidak mengajukan keberatan (eksepsi) atas dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Salatiga. Ia juga sudah memahami dakwaan JPU. Dalam kasus tersebut, Ahmad Naji didakwa telah merugikan negara hingga Rp 465 juta.

“Kami paham dan mengerti yang mulia majelis hakim. Maaf majelis kami tidak akan melakukan epsepsi, langsung pembuktian saja,”kata Najib kepada majelis hakim yang diketuai Ari Widodo, SH.

Penasihat hukum (PH) terdakwa, Rio Pujono, SH mengatakan, pihaknya akan langsung pembuktian. “Kami menghormati azas praduga tak bersalah. Minggu depan kami langsung ke pembuktian, tidak perlu epsepsi,”ungkapnya.

Dalam sidang terpisah dengan terdakwa Sri Prayogo, juga beragendakan pembacaan dakwaan oleh JPU Kejari Salatiga. Hanya saja, Sri Paryogo menyatakan akan mengajukan keberatan (eksepsi) atas dakwaan JPU. “Saya akan mengajukan keberatan pekan depan yang mulia,” kata Sri Prayogo didampingi penasihat hukumnya.

Dalam sidang kemarin, kedua terdakwa dijerat pasal berlapis. Selain pasal 2 jo pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 yang diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP, keduanya juga dijerat pasal 3 undang-undang yang sama.

“Perbuatan kedua terdakwa telah membuat negara mengalami kerugian sebesar Rp 465 juta,” kata JPU Kejari Salatiga, Teguh Supriyono saat membacakan surat dakwaan.

Teguh menerangkan, jika kasus bermula saat RS Paru dr Ario Wirawan Salatiga hendak membangun gedung diklat dengan pagu anggaran sebesar Rp 2,4 miliar pada 2012. Untuk pelaksanaan proyek, terdakwa Ahmad Najib ditunjuk sebagai PPKom. Dalam pelaksanaannya, CV Heksa Prima Inovasi milik Sri Prayogo ditunjuk sebagai pemenang lelang. Adapun nilai kontrak yang disepakati dalam proyek tersebut senilai Rp 2,1 miliar.

“Namun dalam pelaksanaan proyek itu, terjadi banyak persoalan. Hal tersebut diketahui setelah tim ahli dari Dinas Cipta Karya Salatiga melakukan pemeriksaan dalam proyek itu,” beber Teguh.

Berbagai permasalahan yang ditemukan di antaranya pekerjaan yang dilakukan tidak tepat waktu. Dari hasil pemeriksaan, terdapat adendum perpanjangan waktu pelaksanaan yang diberikan oleh terdakwa Ahmad Najib kepada pihak rekanan. “Padahal selaku PPKom, terdakwa harusnya memperingatkan, bukan justru memberikan perpanjangan waktu,” ujarnya.

Selain itu, pekerjaan pembangunan gedung yang dilakukan terdapat perbedaan spesifikasi bahan bangunan. Di mana bahan-bahan yang digunakan tidak sesuai dengan kontrak perjanjian dengan selisih harga mencapai Rp 39,4 juta.”Ada pula beberapa item pekerjaan yang tidak dilakukan oleh terdakwa Sri Prayogo dengan nilai keseluruhan item yang tidak dikerjakan sekitar Rp 53,3 juta,” sebut JPU.

Sidang ditunda oleh majelis hakim hingga Kamis (12/3) pekan depan dengan agenda pembuktian untuk terdakwa Ahmad Najib, dan eksepsi dari terdakwa Sri Prayogo. (mg21/aro)