CAP GO MEH: Seorang anak kecil menyambut kedatangan dewa dalam kirab budaya yang digelar untuk merayakan Cap Go Meh di Kota Magelang, Kamis (5/3). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
CAP GO MEH: Seorang anak kecil menyambut kedatangan dewa dalam kirab budaya yang digelar untuk merayakan Cap Go Meh di Kota Magelang, Kamis (5/3). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
CAP GO MEH: Seorang anak kecil menyambut kedatangan dewa dalam kirab budaya yang digelar untuk merayakan Cap Go Meh di Kota Magelang, Kamis (5/3). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG – Kehadiran tokoh Sun Go Kong meramaikan kirab liong samsi yang dihelat Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio Kota Magelang, Kamis (5/3) siang.

Kera sakti itu menampilkan kelincahannya memainkan tongkat ruyi jingu bang. Tak heran, banyak penonton karnaval yang meminta foto bersama dengan Tom Sam Chong yang lain, yakni Wu Jing dan Cu Pat Kay.

Kirab dengan rute Jalan Pemuda, Jalan Mataram, Jalan Sriwijaya lalu ke Jalan Tarumanegara dilanjutkan ke Jalan Sriwijaya, Jalan Majapahit, belok ke Jalan Sigaluh dan kembali lagi ke kelenteng ini disambut hangat masyarakat.

Di atas mobil hias kapal, ada replika kambing dan kelenteng, tokoh dewi Kwan Im yang cantik juga dihadirkan. Di sampingnya, juga ada Chai Sen Ye yang membagi-bagikan permen kepada masyarakat yang berusaha mendekat.

“Acaranya bagus sekali, meriah. Saya sengaja ajak suami dan cucu untuk nonton ini. Tapi mungkin kalau cucu saya nggak ngerti sama Sun Go Kong, tapi tadi juga penasaran,” kata salah satu penonton karnaval, Mamik, 64, warga Samban, Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Magelang Tengah itu.

Selain, tokoh-tokoh populer yang difilmkan tahun 1996 itu, ada juga penampilan liong dari singa emas dan dari TITD Liong Hok Bio Kota Magelang yang berjalan menuju pecinan. Empat barongsay berwarna merah, hitam dan kuning masuk dan menyalami satu per satu pedagang. Angpau yang dipasang para pemilik tokopun diambil barongsai imut itu.

“Lucu, imut banget barongsainya. Aku suka yang kuning, soalnya warnanya bagus,” kata Amanda, 13, warga Magelang.
Sepanjang rute yang dilewati arak-arakan itu, dipadati penonton. Pasalnya, tak hanya kebudayaan Tionghoa yang ditampilkan, kolaborasi dengan kesenian tradisional seperti topeng ireng, dayakan, maupun reog menambah semarak perhelatan dalam rangka Cap Go Meh 2015 itu.

“Walaupun kelenteng kebakaran, tapi hikmah yang kami ambil adalah semakin baik dan maju. Umat juga tetap semangat, dan kami buktikan dengan kirab liong samsi yang begitu meriah. Malamnya, ada kirab budaya,” kata ketua penyelenggara kirab, Soek Lie.

Namun, acara bagi-bagi 600 kue keranjang di halaman kelenteng gagal, sebab gunungan kue keranjang setinggi 1 meter yang diarak di atas mobil diminta oleh para penonton yang berada di ruas Jalan Pemuda (Pecinan).

“Kalau di kelenteng nanti malah takut nggak kebagian, jadi minta di sini saja,” ungkap Fanny Purwandari, 25, salah satu penonton yang saat itu menggendong anaknya.

Kirab ini membawa berkah bagi para pedagang asongan maupun pedagang mainan. Mereka dibanjiri pembeli. “Sudah banyak yang beli. Ada mainan naga yang harganya Rp 15 ribu biasa, kalau yang Rp 20 ribu ada lampunya. Jadi kalau malam bisa kelihatan bagus. Yang beli orang tua yang bawa anak-anaknya,” tutur Jumiyati, 67, pedagang mainan yang merupakan warga Pakis, Kabupaten Magelang. (put/lis)