BERSIHKAN JALAN : Satpol PP, TNI, Polres Batang, warga dan para nelayan, Kamis (5/3) kemarin, membersihkan serta memperbaiki bekas kerusakan pasca demo nelayan yang anarkis, Selasa (3/3) lalu. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
BERSIHKAN JALAN : Satpol PP, TNI, Polres Batang, warga dan para nelayan, Kamis (5/3) kemarin, membersihkan serta memperbaiki bekas kerusakan pasca demo nelayan yang anarkis, Selasa (3/3) lalu. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
BERSIHKAN JALAN : Satpol PP, TNI, Polres Batang, warga dan para nelayan, Kamis (5/3) kemarin, membersihkan serta memperbaiki bekas kerusakan pasca demo nelayan yang anarkis, Selasa (3/3) lalu. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG-Aksi demonstrasi ribuan nelayan Kabupaten Batang yang berujung anarkis, Selasa (3/3) lalu, telah menyebabkan banyak kerugian fasilitas umum (Fasum) milik Pemkab Batang. Yakni di sepanjang jalur pantura, terutama di sepanjang Jalan Sudirman Desa Sambong. Setelah dihitung gradual, total kerugian material mencapai Rp 220 juta lebih.

Kerugian tersebut meliputi kerusakan fasum yang dikelola Dinas Cipta Karya Tata Ruang Kebersihan-Energi Sumber Daya Mineral (DCKTRK-ESDM) dan satu unit Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Ditaksir lebih dari Rp 170 juta.

Sedangkan kerusakan dari pihak swasta diperkirakan lebih dari Rp 50 juta. Meliputi, pecahnya kaca bus pariwisata dengan Nopol K 1558 AW, rusaknya warung di depan Kantor Samsat Batang, serta dijarahnya barang dagangan milik warga sekitar, seperti barang dagangan milik pedagang buah, ban bekas milik tukang tambal ban, dan warung makanan.

Kamis siang (5/3) kemarin, Satpol PP, Polres Batang, TNI dan para nelayan, membersihkan dan merapikan kembali sisa-sisa kerusakan fasilitas umum yang ada di sepanjang pantura Jalan Jendral Sudirman tersebut. Kini, jalan pantura sudah kembali rapi, meski masih terlihat banyak sisa kerusakan.

Bahkan Paguyuban Nelayan Batang juga membayar ganti rugi pedagang buah, memperbaiki warung makan yang sempat dirusak, serta membayar kerugian pemilik ban pada tukang tambal ban di Desa Sambong.

“Seperti buah rambutan ada 5 karung yang sempat diambil, sekarang sudah kami bayar. Demikian juga untuk warung makan dan tambal ban, semua sudah kami selesaikan secara baik-baik,” kata Pengurus Paguyuban Nelayan Batang, Wahyudi, usai membantu kerja bakti.

Kabid Kebersihan, Penerangan Jalan Umum dan ESDM pada DCKTRK-ESDM Kabupaten Batang, M Safi’i, mengatakan bahwa khusus DCKTRK-ESDM, fasilitas umum yang rusak adalah pertamanan yang nilainya tidak kecil. Data sementara yang dihimpun dari instansi terkait, Pemkab menyebut angka kerugian sekitar Rp 170 juta lebih. Meliputi tanaman median jalan, pot tanaman hias dan tanaman turus atau tepi jalan.

“Di instansi kami, yang dihitung hanya kerusakan pertamanan. Sesuai hasil perhitungan, kerugian sementara total sekitar Rp 146 juta. Kalau harga yang sekarang kami tidak tahu, mungkin sudah naik atau berubah,” kata M Safi’i.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batang, Yesaya Simanjuntak menandaskan bahwa aksi anarkis massa pendemo juga merusak kendaraan operasional mobil Damkar. Sehingga beberapa komponen rusak antara lain spion, kaca-kaca, dan bodi kendaraan penyok. “Kerugiannya kami taksir sekitar Rp 25 juta. Karena bodi kendaraan ternyata banyak yang penyok,” tandas Yesaya Simanjuntak. (thd/ida)