Buang Sial Lewat Ritual Ciswak

514
DIBAKAR: Puluhan umat Tri Dharma saat menggelar ritual ciswak dengan membakar replika kapal dan boneka bertuliskan nama yang memiliki jiong. (ADITYO DWI/jpnn/radar semarang)
DIBAKAR: Puluhan umat Tri Dharma saat menggelar ritual ciswak dengan membakar replika kapal dan boneka bertuliskan nama yang memiliki jiong. (ADITYO DWI/jpnn/radar semarang)

foto a3WEB

NGEMPLAK SIMONGAN- Puluhan umat Tri Dharma memadati halaman kompleks Kelenteng Sam Poo Kong, Gedung Batu, Kamis (5/3). Mereka berkumpul guna menjalankan ritual ciswak atau tolak bala, yang digelar saat perayaan Cap Go Meh atau 15 hari setelah Imlek.

Salah satu pengurus Kelenteng Sam Poo Kong, Leonard Albert, mengatakan, ritual tersebut dilakukan agar umat Tri Darma selalu mendapatkan rezeki melimpah. Juga selalu diberikan kesehatan. “Umat yang mengalami jiong di tahun 2015 akan dimudahkan segala rezeki, serta kesehatan dan kehidupannya,” ujar Leonard.

Ritual diawali dengan berdoa di ruang utama Kelenteng Sam Poo Kong, dilanjutkan berjalan beriringan menuju Keleteng Tho Tee Kong tempat pemujaan Kyai Juru Mudi. Setelah itu, para umat berjalan menuju Kelenteng Dewa Bumi di mana nanti akan dilakukan ritual pembakaran seperti orang orangan dari kertas, dan kapal besar yang merupakan simbol untuk membuang sial.

Selain itu, para umat Tri Dharma yang pada tahun ini memiliki jiong atau shionya bertentangan dengan tahun kambing kayu, maka dianjurkan melaksanakan upacara ciswak. Di antaranya, yang bershio kuda, kerbau, kambing, dan naga.

“Ini ritual setahun sekali yang bertujuan untuk tolak bala. Bagi umat yang ingin melakukan ritual ini, dapat mendaftarkan ke Yayasan Kelenteng Sam Poo Kong. Nantinya pihak kelenteng akan membantu guna pengadaan ritual ini,” katanya.

Ritual ciswak ditandai dengan pembakaran replika kapal. Pembakaran ini untuk menghantarkan doa pembersihan diri pada perayaan Cap Go Meh yang digelar 15 hari setelah Imlek.

Sebelum replika kapal dibakar, sejumlah warga Tionghoa mengambil boneka yang sudah ditulis nama lengkap untuk dibakar bersama replika kapal. Salah satu boneka dari kertas yang dibakar kemarin bertuliskan nama Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi SH, MM yang lahir tanggal 30 Maret 1971. Selain itu ada nama Priambudi Setiakusuma (Thio Ek Liam) yang bershio kerbau, dan nama Mulyadi Setiakusuma yang bershio naga.

Ritual ciswak dimulai sekitar pukul 11.00, dan selesai pada pukul 13.00. Tak urung, acara tersebut mengundang perhatian para wisatawan untuk berkunjung ke kelenteng. Salah satunya Yeni Darmawan. Wanita asal Jakarta tersebut sengaja datang ke Sam Poo Kong untuk melihat ritual ciswak yang dalam budaya Jawa dikenal dengan ritual ruwatan.

“Kita ke sini memang sengaja untuk melihat acara ciswak. Meriahnya seperti apa, saya jadi penasaran. Karena di kota lain juga pasti melakukan hal yang sama, namun yang membedakan waktu pelaksanaannya,” ujarnya.

Menurut Yeni, ritual ciswak harus tetap dipelihara. Selain untuk melestarikan tardisi, juga dapat menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kota Semarang. (ewb/aro)