BANJIR : Perumahan Sraten Permai dan sawah seluas 9 hektare di Desa Jombor Kabupaten Semarang mengalami banjir setinggi pinggang orang dewasa, Selasa malam (3/3) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
BANJIR : Perumahan Sraten Permai dan sawah seluas 9 hektare di Desa Jombor Kabupaten Semarang mengalami banjir setinggi pinggang orang dewasa, Selasa malam (3/3) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
BANJIR : Perumahan Sraten Permai dan sawah seluas 9 hektare di Desa Jombor Kabupaten Semarang mengalami banjir setinggi pinggang orang dewasa, Selasa malam (3/3) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

TUNTANG—Akibat sendimentasi Rawa Pening dan buangan air yang berasal dari Salatiga, Perumahan Sraten Permai dan sawah seluas 9 hektare di Desa Jombor Kabupaten Semarang mengalami banjir setinggi pinggang orang dewasa, Selasa malam (3/3) kemarin. Dampaknya, hasil sawah sejumlah petani hanya bisa dipanen sebanyak 40 persen.

Ketua RT 3 RW 7 Desa Sraten, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Khumaidi, mengatakan bahwa tadi malam air sudah sepinggang orang dewasa. Banjir seperti ini sudah berkali-kali terjadi. Meskipun dua tahun lalu memang dilakukan pengerukan, tapi hanya di hilir dan tidak menyeluruh. Talud yang dibuatpun tidak rata, yang sebelah tinggi, yang sebelah lain rendah, imbasnya banjir di sawah warga Jombor.

“Akibat banjir, pembibitan ikan yang saya lakukan merugi sampai Rp 20 juta. Area sawah yang dipakai adalah kontrak sawah mati yang sudah tidak bisa ditanami lantaran kerap digenangi banjir,” tandasnya.

Menanggapi hal tersebut, Rokhmat, Lurah Sraten mengatakan bahwa warga Sraten di pinggir aliran pengairan yang menuju ke Rawa Pening sering mengeluhkan banjir. Pasalnya, desa yang berada di pinggiran Salatiga mendapat imbas dari pembuatan jalan lingkar Salatiga. Dahulu daerah tersebut adalah daerah resapan. Sekarang menjadi pembuangan air. Akibat sendimentasi rawa, membuat air di rawa lebih tinggi, sehingga air yang mengalir dari Salatiga kembali dan mengakibatkan banjir.

“Ini sudah berkali-kali terjadi. Penyebab lainnya adalah mudahnya alih fungsi lahan tanpa memikirkan saluran pembuangan air. Dulu yang menjadi lahan resapan sudah banyak berubah menjadi lahan beton,” tegasnya.

Rokhmat mengajak Wali Kota Salatiga dan Bupati Semarang untuk memikirkan hal tersebut. Kalau ingin dinormalisasi, jangan setengah-setengah. Tapi harus dilakukan pembenahan dari hulu sampai hilir. Rawa Pening adalah daerah pembuangan dari Salatiga dan Kabupaten Semarang, jadi harus bersinergi dalam menyelesaikan permasalahan ini.

“Sampai saat ini, saya melihat normalisasi Rawa Pening masih setengah-setengah. Meskipun saya tahu itu tidak mudah dilakukan. Yang jelas, untuk menormalisasikan saluran pengairan tersebut, kami siap membantu. Yang penting, semua regulasi jelas,” pungkasnya. (abd/ida)