INDUSTRI KREATIF: sejumlah peserta tengah ‘menyulap’ flat shoes menjadi sepatu pesta yang lebih menarik. (PRATIDINA/RADAR SEMARANG)
INDUSTRI KREATIF: sejumlah peserta tengah ‘menyulap’ flat shoes menjadi sepatu pesta yang lebih menarik. (PRATIDINA/RADAR SEMARANG)
INDUSTRI KREATIF: sejumlah peserta tengah ‘menyulap’ flat shoes menjadi sepatu pesta yang lebih menarik. (PRATIDINA/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kerajinan handmade belakangan makin banyak diminati. Keunikan serta kreativitas dari karya para perajin dinilai memiliki nilai jual lebih.

Setelah tas handmade, kini giliran sepatu dengan sentuhan tangan kreatif yang mulai naik daun. Ya, sepatu-sepatu yang semula terlihat biasa, setelah ‘diutak-atik’ dan dibubuhi detail material pun tampil lebih trendi. “Sepatu ini awalnya hanya flat shoes biasa, lalu kita hias dengan lace, pita dan manik-manik. Hasilnya jadi lebih manis, bisa dikenakan untuk dandanan casual maupun saat menghadiri acara-acara resmi,” ujar Nur Hamidya di sela acara Crafting Class, belum lama ini.

Menurutnya, tak terlalu sulit menghasilkan sepatu-sepatu handmade yang cantik. Bahkan, bahan-bahan yang ada pun bisa dimanfaatkan, tak harus baru. Hanya saja, dibutuhkan kreativitas, kesabaran serta ketelatenan.

Sepatu handmade yang mereka buat ini misalnya. Material yang dibubuhkan, semuanya dijahit tangan, bukan ditempel dengan lem. Sebelumnya, pita yang akan ditempel juga harus melalui proses pembuatan. “Di situ letak istimewanya. Perajin membutuhkan waktu untuk menghasilkan sepatu handmade, karena hiasannya juga kita buat sendiri. Selain itu, karena bukan buatan mesin, maka satu dengan lainnya, hasilnya tidak sama,” kata pemilik Ciss Handmade ini.

Workshop yang mereka gelar ini, juga menjadi salah satu cara dalam menyosialisasikan dan menggerakkan masyarakat, khususnya Semarang akan berbagai jenis kerajinan tangan. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, benda-benda yang semula biasa bisa memiliki nilai ekonomi lebih. “Potensi di Semarang sebetulnya banyak, kita juga nggak ketinggalan dengan kota-kota lain. Hanya saja masih banyak yang belum mengenal. Padahal, utak-atik handmade sangat menyenangkan dan menguntungkan,” imbuh manajer Meilluer Ami, Rani Nelasari. (dna/smu)