Dua Bulan, 11 Kasus Kekerasan Seksual

226

KENDAL – Kekerasan seksul terhadap perempuan dan anak di Kendal masih sangat tinggi. Terbukti selam kurun waktu awl 2015 hingga kini Pusat Pelayanan Terpadu Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (PPT–PKPA) Larashati Kendal, mencatat ada 11 kasus. Sembilan diantaranya menimpa anak-anak dan dua lainnya perempuan dewasa.

Sekretaris PPT-PPKA Larashati Kendal, Rochatun mengatakan, jumlah kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak di Kabupaten Kendal mengalami peningkatan. Sejak tahun 2013, ada 91 kasus yang telah masuk ke PPT-PKPA Larashati. Jumlah tersebut meningkat lagi sebanyak 104 kasus di 2014. Rinciannya 59 kasus kekerasan pada anak dan 45 kasus kekerasan pada perempuan dewasa. “Dari 11 kasus, dua kasus telah terselesaikan melalui cerai dan rujuk kembali. Sedangkan satu kasus lainnya merupakan lanjutan kasus yang terjadi pada tahun 2014,” katanya, kemarin.

Rata-rata korban kekerasan tersebut dilakukan karena mereka ditelantarkan secara ekonomi, pelecehan seksual anak, perkosaan dan penganiayaan. Namun, kasus yang mendominasi adalah KDRT. “Kami juga sedang melakukan proses penyelesaian kasus untuk penganiayaan dan pencabulan. Satu orang telah kami titipkan pada RSPA Wira Adhi Karya untuk menjalani rehabilitasi,” imbuhnya.

Korban kekerasan yang direhablitasi adalah anak-anak. Kini telah dikeluarkan dari sekolahnya karena sering membolos. Setelah dilakukan penelusuran ternyata anak itu kurang mendapatkan pengawasan dari kedua orang tuanya karena orang tua bekerja sebagai TKI di luar negeri. “Si anak tinggal di Kendal bersama neneknya, sehingga kurang pengawasan. Sehingga ia mencari kasih sayang dari orang lain dengan bepergian dan jarang berangkat ke sekolah,” tambahnya.

Penyluh Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asai Manusia (LRC KJHAM) Semarang, Nihayatul Mukharomah mengatakan ada 15 bentuk kekerasan seksual yang marak dan banyak dialami perempuan dan anak. Mulai dari perkosaan, intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksua dan perdagangan perempuan untuk tujuan seksual. Selain itu prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan (termasuk cerai gantung), pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi, penyiksaan seksual.

“Masih banyak lagi, yang dialami perempuan yang menjadi korban kekersan seksual yang dilalukan secara tidak manusiawi. Daftar-daftar tersebut belumlah final karena bisa saja berkembang dan belum dikenali,” bebernya.

LRC KJHAM melakukan penanganan kasus dengan menyadarkan hak terhadap para korbannya. “Kami juga berusaha mendorong perubahan hukum, yang berpihak pada korban. Karena kenyataannya, seringkali hukum tidak berpihak kepada perempuan yang menjadi korban,” tuturnya. (bud/fth)