Tinggalkan Zona Nyaman

171
NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG
NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG
NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG

DALAM menerjuni dunia bisnis, kadang dibutuhkan sebuah tantangan untuk mendapatkan gairah baru. Berspekulasi, mungkin salah satu dari sekian banyak cara menggemukkan pundi-pundi rupiah. Seperti yang dilakukan Ika Upaya. Wanita berhijab yang akrab disapa Iiq ini rela banting setir demi menggeluti dunia entrepreneur. Padahal, Iiq sudah terbilang mapan di jagad perhotelan.

Sudah hampir 13 tahun, wanita kelahiran Semarang, 20 Juni 1974 ini ngantor di salah satu hotel bintang empat di Kota Atlas. Dianggap sudah senior, pada 2009 silam, dia didapuk sebagai public relations manager yang notabene sudah berada di zona aman karirnya.

”Kalau sudah di level manager itu kan enak. Dari porsi pekerjaan dan salary sudah oke lah. Tapi saya merasa tidak lagi ada tantangan,” kata pemilik postur tubuh 163 cm/54 kg ini kepada Radar Semarang.

Merasa ingin mandiri dan mencari petualangan baru, Iiq nekat banting setir. Bermodal ilmu manajemen yang sudah dilalap dari dunia perhotelan, dia mencoba menerjuni bisnis. Awalnya, penyuka teh dan aneka olahan ayam ini beranggapan dunia entrepreneur itu gampang. Minimal, sistem manajemennya tidak jauh beda dari perhotelan.

”Tapi kenyataannya tidak. Bahkan jauh berbeda. Pertama, saya membuka butik tahun 2009. Saat itu kan memang Semarang sedang booming bisnis fashion. Setelah opening, baru merasakan kalau wirausaha itu berat. Benar-benar tidak seperti yang saya bayangkan dulu,” ungkapnya.

Merasa tidak berkembang, ibunda Najmi Bintang Kirana dan Shakira Anjeli Cinta ini beralih ke bisnis aksesori dengan mengusung brand ’B&C Accessories’. Pertimbangannya, meski aksesori lebih murah, tapi cukup profit dibandingkan fashion yang tidak setiap hari orang bisa beli.

”Cashflow-nya lebih enak di aksesori. Tapi kendalanya di promosi. Apalagi ini pakai brand sendiri yang belum dikenal orang,” cetusnya.

Untuk menyiasati kekurangan itu, Iiq rajin menyebar brosur dan mengikuti pameran atau bazar. Usaha mengenalkan brand baru selama lebih dari dua tahun itu membuahkan hasil. Para ibu-ibu muda dan remaja mulai berbondong-bondong menggeruduk pernik penunjang kecantikan yang ditawarkan.

Kini, Iiq sudah sudah punya lima gerai B&C Accessories dengan total 30 karyawan. Di antaranya, di kawasan Sigar Bencah dan Jalan Sirojudin Tembalang, Jalan Hassanudin, Mranggen, dan Ungaran. Dia memang sengaja tidak merambah di mal-mal lantaran harus menaikkan harga produk untuk menutup pajak yang tinggi. Iiq lebih memilih area di dekat sekolah atau kampus agar efektif menyasar segmen. ”Rencananya mau buka gerai lagi di Ruko Perumahan Graha Wahid,” katanya. (amh/aro/ce1)