SEMARANG – PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan memberlakukan perubahan jadwal perjalanan kereta api (KA) mulai 1 April mendatang. Selain itu, PT KAI juga sekaligus menetapkan kenaikan tarif transportasi KA.

Kenaikan tarif ini juga memengaruhi harga tiket KA kelas ekonomi yang telah disubdisi pemerintah atau mendapatkan (PSO). Kenaikannya mencapai 100 persen atau7 dua kali lipat.

Manager Humas PT KAI Daop IV Semarang, Suprapto, saat ditemui Radar Semarang mengatakan jika kenaikan harga tiket dilandaskan pada dasar hukum kenaikan ini adalah aturan Kementerian Perhubungan, yakni perubahan Permenhub nomor: PM 5 tahun 2014 menjadi PM 17 tahun 2015. Dengan rata-rata kenaikan antara 30 persen hingga 60 persen. “Kenaikan harga tiket paling banyak pada kereta jarak jauh, hal ini dikarenakan KA tersebut jarang digunakan masyarakat,” katanya kemarin.

Menurut dirinya, pertimbangan pemerintah memberlakukan tarif baru tersebut karena beberapa pertimbangan di antaranya kenaikan bahan bakar (BBM) bersubsidi, perubahan Pedoman Perhitungan Tarif dari PM 28 tahun 2012 menjadi PM 69 tahun 2014, perubahan margin dalam perhitungan BOP (Biaya Operasi) KA Ekonomi dari semula 8 persen menjadi 10 persen serta menguatnya kurs dolar AS terhadap rupiah. “Untuk wilayah Daop IV Semarang ada 5 KA yang mengalami kenaikan tarif, diantaranya adalah KA Tawang Jaya, KA Kalijga, KA Tegal Arum, KA Brantas dan KA Matarmaja,” jelasnya.

Pada Januari lalu, Pemerintah secara resmi kembali memberikan subsidi kepada penumpang KA kelas ekonomi. Itu berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran No.SP DIPA-999.07.1.957337/2015 dan Peraturan Menteri (Permen) No.5 tahun 2014. Untuk jumlah subsidi sdari pemerintah sebesar KA kelas ekonomi dari pemerintah sebesar Rp 1.523.737.021.893. Jumlah tersebut naik sekitar Rp 240 miliar dari tahun sebelumnya yakni sebesar Rp 1,224 triliun. “Kenaikan ini disebabkan oleh inflasi, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan harga bahan bakar minyak (BBM),” beber dia.

Naiknya subisidi dari pemerintah lebih condong kepada Commuter Line Jabodetabek mendapat porsi subsidi paling besar. Hal ini dikarenakan kereta tersebut banyak digunakan masayrakat untuk berpergian setiap harinya. “Subsidi diberikan dengan tujuan untuk menjaga tarif sehingga dapat menarik masyarakat di Jabodetabek untuk lebih memilih menggunakan moda transportasi KA sehingga mengurangi kemacetan di wilayah Jabodetabek,“ ujarnya. (den/smu)