Terandam Air, Hanya Terlihat Puncaknya

2751
SUSAH : Candi Losari hanya menyisakan bagian puncak karena sekelilingnya dipenuhi air yang bersumber dari mata air dan hujan. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
SUSAH : Candi Losari hanya menyisakan bagian puncak karena sekelilingnya dipenuhi air yang bersumber dari mata air dan hujan. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
SUSAH : Candi Losari hanya menyisakan bagian puncak karena sekelilingnya dipenuhi air yang bersumber dari mata air dan hujan. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID— Candi Losari di Dusun Losari Desa/Kecamatan Salam Kabupaten Magelang belum bisa ditangani oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Kondisi ini dikhawatirkan akan merusak bangunan cagar budaya peninggalan zaman Mataram Hindu itu.

Candi di tengah perkebunan salak ini berada 4,5 meter di bawah permukaan tanah normal. Di sekelilingnya terdapat genangan air. Saat musim hujan, hanya bagian puncak candi yang terlihat.

Kondisi air yang cukup jernih membuat dasar fondasi tiga candi terlihat sudah berlumut. Ada ikan-ikan kecil yang hidup di sana. ”Di sana kan memang ada mata air yang terus mengalir,” kata Santoso, warga setempat.

”Air (yang merendam bangunan candi) itu asli menyembur dari bawah. Bukan air hujan. Hal itu terjadi sejak akhir tahun 2014, jadi sudah ada setahunan,” ujar tambah Petugas Penjaga Candi Losari Supriyo.

Menurut Supriyo, air yang menggenangi bangunan candi itu mulai menyembur saat BPCB mulai menggali tanah untuk mencari bagian dasar candi pada Oktober 2013 lalu. Kala itu, air terus menerus mengalir dari tanah dan menghambat proses penggalian.

“Petugas penggali sempat kebingungan karena banyaknya air yang keluar. Bahkan, saat itu, BPCB menggunakan mesin diesel untuk menyedot air saat penggalian,” ujarnya.

Namun, setelah penggalian selesai, air tetap menggenang dan hingga saat ini merendam bangunan candi. Pihak BPCB juga telah membuat atap untuk menutupi bangunan candi itu dengan atap yang terbuat dari bahan sejenis plat dan disangga besi sebagai peneduh candi.

Kondisi ini, kata dia sangat mungkin membuat bangunan candi lapuk. ”Jika tidak d tangani bisa membuat lapuk,” katanya.

Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Magelang, Titik Handayani menjelaskan, adanya genangan air di candi losari ini sudah diketahui pihaknya dan BPCB Jateng. Dia membenarkan jika air itu menggenangi satu induk candi, dan tiga perwara sejak beberapa kali penggalian oleh BPCB.

“Sejauh ini, penanganan teknis menjadi kewenangan dari BPCB Jateng. Sudah ada kajian yang melibatkan tim ahli geologi dari UGM dan UPN mengenai itu untuk pembuangan air yang menggenang di bangunan candi,” jelas Titik.

Untuk diketahui, Candi Losari pertama kali ditemukan pada tahun 2004 di kebun salak milik salah seorang warga, Badri. Candi Losari ini sebelumnya tertimbun material endapan lahar dari Gunung Merapi. Candi ini memiliki satu candi induk berukuran luas 4,5×4,5 meter persegi, dan tiga candi perwara dengan ukuran luas, 2,58x,2,58 meter persegi.

Dalam bilik candi induk terdapat relung yang diduga sebagai tempat untuk menempatkan arca. Sebelumnya, di sekitar Candi Losari ditemukan lebih dari 10 arca, yang kini telah disimpan, diamankan oleh BPCB Jawa Tengah. (vie/ton)