Ratusan Warga Tergelincir di Rel KA Tambakboyo

143
PERLU PERBAIKAN : Lintasan jalur rel Kereta Api (KA) di Jalan Tambakboyo, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang tanpa palang pintu kondisinya licin dan memakan ratusan korban. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PERLU PERBAIKAN : Lintasan jalur rel Kereta Api (KA) di Jalan Tambakboyo, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang tanpa palang pintu kondisinya licin dan memakan ratusan korban. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PERLU PERBAIKAN : Lintasan jalur rel Kereta Api (KA) di Jalan Tambakboyo, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang tanpa palang pintu kondisinya licin dan memakan ratusan korban. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

AMBARAWA–Lintasan jalur rel Kereta Api (KA) di Jalan Tambakboyo, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang sering memakan korban. Rel tersebut sudah berkali-kali membuat pengendara motor tergelincir. Bahkan, perlintasan yang hanya dilewati kereta api (KA) jalur Stasiun Ambarawa–Tuntang tersebut, tidak ada palang pintu. Kadang warga sekitar berinisiatif menghentikan mobil yang lewat, jika ada kereta api akan lewat.

Di dekat rel tersebut memang sudah ada tulisan peringatan Awas Rel Licin. Namun dibuat asal-asalan dengan tulisan tak beraturan yang dipasang oleh warga sekitar rel. Sedangkan pihak Pemkab Semarang, PT KAI (Kereta Api Indonesia) maupun pihak Stasiun KA Ambarawa, belum pernah memasang papan peringatan. Padahal, sampai saat ini, korban terpeleset sudah berjumlah ratusan.

Harsanto, 52, warga Kupang Rejo, Ambarawa, Kabupaten Semarang mengaku, jika musim hujan, jalur tersebut sangat licin dan membahayakan pengendara motor jika tidak hati-hati. Tidak jarang, saat hujan turun ataupun usai hujan, satu atau dua orang pengendara ada yang terjatuh karena melintasi rel tersebut. Untuk mengantisipasi kecelakaan di sekitar rel, warga akhirnya bergotong royong memasang tambahan bantalan menggunakan karpet. Hal ini agar posisi rel dengan badan jalan lebih sejajar.

“Harusnya Pemkab Semarang atau PT KAI tanggap akan masalah ini dan melakukan langkah antisipasi, demi mengurangi kecelakaan di kawasan rel tanpa palang pintu tersebut,” terang Santo, yang mengaku dirinya sudah dua kali terjatuh di atas rel meski sudah hati-hati.

Hal senada dikatakan Riyadi, 48, warga Tambakrejo, Ambarawa. Dia menengarai, pihak dinas terkait ataupun PT KAI sengaja membiarkan keluhan warga/masyarakat. Pasalnya, jika pihak PT KAI tanggap, sejak dulu sudah melakukan langkah antisipasi di lokasi rel tersebut. “Jika tetap dibiarkan seperti itu, korban kecelakaan akan terus bertambah,” tandas Riyadi, yang juga guru salah satu SD di Ambarawa. (abd/ida)