Lakukan Berbagai Inovasi, Sudah Luluskan 2 Ribu Peserta Diklat

203
TERUS MAJU : Drs H Dachirin Said SH MSi didampingi Kepala Kantor Diklat dan Litbang Hadi Waluyo saat meresmikan Musala Darul Ilmi kantor tersebut. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
TERUS MAJU : Drs H Dachirin Said SH MSi didampingi Kepala Kantor Diklat dan Litbang Hadi Waluyo saat meresmikan Musala Darul Ilmi kantor tersebut. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
TERUS MAJU : Drs H Dachirin Said SH MSi didampingi Kepala Kantor Diklat dan Litbang Hadi Waluyo saat meresmikan Musala Darul Ilmi kantor tersebut. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

Kiprah Kantor Diklat dan Litbang kini menjadi tumpuan dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang handal, khususnya bagi pegawai negeri sipil (PNS) dilingkungan Pemkab Demak.

WAHIB PRIBADI, Demak

Lembaga yang berdiri sejak 2009 atas prakarsa (alm) Bupati Tafta Zani ketika itu memberikan sebuah harapan adanya perbaikan kualitas SDM bagi PNS maupun masyarakat. Karena itu, lembaga ini memiliki nilai dan posisi yang strategis bagi peningkatan SDM.

Bupati Demak, Drs H Dachirin Said SH MSi mengungkapkan, kantor diklat merupakan salah satu institusi untuk meningkatkan SDM. Karena itu, kegiatan diklat harus diupayakan bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Menurutnya, diklat itu penting dilakukan. Sebab, selain sarana mentransfer ilmu pengetahuan, juga menambah keterampilan serta memperbaiki sikap mental (attitude) peserta diklat. “Pejabat yang sudah menjalani berbagai diklat, maka pola pikirnya harus berbeda,” kata Bupati Dachirin Said.

Artinya, pejabat yang sudah menjalani diklat, utamanya diklatpim harus lebih kreatif untuk membangun Demak lebih maju dan sejahtera. Kepala Kantor Diklat dan Litbang, Hadi Waluyo mengungkapkan, berdasarkan Perda Nomor 7 Tahun 2008 disebutkan, bahwa sebagai lembaga tekhnis, maka Diklat dan Litbang ini mempunyai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang sudah jelas. Yaitu, melakukan perencanaan, pelaksanaan, pembinaan dan peningkatan kapasitas aparatur dan masyarakat.

Selain itu, melakukan kajian terhadap potensi daerah. Menurut Hadi, hingga 2014, tercatat sudah ada sekitar 2 ribu alumni peserta diklat, khususnya PNS. Mereka menjalani diklat dalam jabatan, seperti diklatpim, diklat tekhnis dan diklat fungsional. Materi khusus kebijakan visi misi disampaikan bupati, kebijakan pembangunan oleh wakil bupati dan semangat motivasi oleh sekretaris daerah (sekda). “Pada 2015 ini, kita sudah rencanakan diklat kepada aparatur Pemkab Demak sebanyak 1.133 orang. Ini jumlah terbesar dan terbanyak dalam sejarah Kantor Diklat, salama satu tahun anggaran ini,” katanya.

Jumlah itu, terdiri dari 533 orang pra jabatan CPNS K2, 60 CPNS umum dan selebihnya diklat tekhnis dan fungsional. Adanya lembaga diklat ini patut disyukuri. Sebab, di Jawa Tengah hanya ada 6 daerah yang punya lembaga diklat. Yaitu, Demak, Sragen, Banyumas, Cilacap, Pekalongan dan Wonogiri. Dengan adanya lembaga ini, maka peningkatan SDM jadi prioritas, utamanya setelah terbitnya UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang aparatur sipil negara (ASN). “Sesuai dengan komitmen bapak Bupati Dachirin Said, bahwa SDM aparatur harus ditingkatkan. PNS wajib dibekali ilmu, keterampilan dan prilaku atau sikap yang baik. Lembaga diklat ini menjadi tempat/kawah condrodimuko bagi PNS. Kedisiplinan dan mentalitas mereka ditempa sejak prajabatan,” imbuhnya.

Setiap PNS, kata dia, punya hak ikut diklat sekurang-kurangnya 12 hari. Penyiapan SDM aparatur dalam ASN dalam diklat hanya ada tiga jabatan. Yakni, jabatan adiministratur, pengawas/pelaksana dan pimpinan. “Kita koordinasi dengan SKPD. SKPD tekhnis merencanakan, kita tinggal menyelenggarakan diklatnya. Misalnya saja, diklat tekhnologi informasi dan komunikasi (TIK) direncanakan Dishubkominfo dan diklatnya di lembaga diklat ini,” tambahnya.

Untuk menggelar diklat ini, pihaknya melakukan berbagai inovasi. Diantaranya, penyiapan sarana prasarana pembelajaran, sarana ibadah dan sarana penyelenggaraan. Kantor Diklat sendiri memiliki 4 ruang kelas. Terdiri dari; 2 ruang kapasitas 100 orang, 1 ruang kapasitas 60 orang dan 1 ruang lagi kapasitas 40 orang. Sedangkan, asrama ada 48 kamar dengan kapasitas 2 orang perkamar. Fasilitas AC, dan kamar mandi didalam. Tambah pula musala Darul Ilmi dan rumah makan senilai Rp 1,2 miliar. “Semua cukup memadai. Kita juga kerjasama dengan tenaga kesehatan yang stand by 24 jam,”katanya.

Untuk pembelajaran, inovasi yang dilakukan adalah memasukkan materi pembinaan mental; dengan istighotsah, do’a bersama, salat berjamaah lima waktu plus salat sunnah malam hari. “Ini sesuai visi misi Pemkab Demak yang demokratis dan agamis,”katanya.

Inovasi lain berupa evaluasi kepada tenaga pengajar/ Widyaiswara serta penyusunan struktur program kurikulum sesuai kebutuhan dan perundang-undangan. Misalnya saja, guru baru sebelum bertugas harus ikut diklat program induksi guru pemula (PIGP) dan program sasaran kinerja pegawai (SKP). Untuk diklat kepemimpinan (diklatpim) juga terus diupayakan. Hingga kini, masih ada sekitar 248 pejabat eselon IV yang belum ikut diklat pim tingkat 4. Padahal, mereka sudah menjabat eselon IV. “Pada 2015 ini, kita baru anggarkan 30 orang untuk diklatpim 4 ini,”jelasnya.

Pun, untuk eselon III, pejabat yang belum diklatpim ada 60 orang. Pihaknya juga hanya menganggarkan untuk 30 orang untuk diklatpim tingkat 3 ini. Untuk diklat tekhnis/fungsional, maka sesuai SE Bupati Nomor 893.3/0024/2015 tertanggal 16 Februari 2015 tentang perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pengembangan SDM aparatur Pemkab Demak, semua SKPD diminta menyusun rencana kebutuhan diklat aparatur/masyarakat sesuai tupoksi masing-masing. “Kita susun skala prioritas. Kita juga lakukan evaluasi alumni diklat. Sejauhmana mereka menerapkan hasil diklat itu ditempat kerjanya. Apakah ada perubahan, manfaat dan peningkatan atau tidak setelah diklat itu. Dan, apa saja yang perlu diperbaiki,”katanya.

Menurut Hadi, pihaknya juga telah menyiapkan akreditasi lembaga diklat kepada Lembaga Administrasi Negara (LAN) selaku pembina lembaga diklat pemerintah secara nasional. Karena itu, sarana prasarana yang ada harus sesuai standar LAN. Disiapkan pula tenaga pengajar/Widyaiswara . “Sesuai arahan bapak bupati, kita adakan Widyaiswara di bagian Litbang serta pengiriman pejabat eselon untuk ikut Training of Course (TOC), Training of Facilitators (TOF), dan Management of Trainers (MOT),” tambahnya.

Hadi menambahkan, khusus untuk bidang Litbang, sesuai tupoksinya dalam menyusun kebijakan dan kajian potensi daerah, maka inovasi yang dilakukan dalam meningkatkan kapasitas masyarakat adalah melalui penerapan TIK, termasuk untuk sektor UMKM. Ada tenaga khusus untuk memperkuat tim tersebut dengan mengisi formasi jabatan peneliti dan litbang minimal 3 orang. Ini karena ada diklat calon peneliti yang dipandu dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). (*/fth/sadv)