Tunggui Proses Kawin Hingga Tiga Jam

197
KONSERVASI: Fidil Rahmat sedang mengamati indukan beong yang dipeliharanya. (MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU)
KONSERVASI: Fidil Rahmat sedang mengamati indukan beong yang dipeliharanya. (MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU)
KONSERVASI: Fidil Rahmat sedang mengamati indukan beong yang dipeliharanya. (MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU)

Kabupaten Magelang terkenal dengan ikan beong khas Kali Progo. Namun, populasi ikan ini mulai berkurang karena perkembangan secara alaminya terhambat. Hal itu sudah dipecahkan oleh seorang petani ikan asal Sawangan. Seperti apa ?

MUKHTAR LUTFI, Mungkid

DENGAN penuh konsentrasi, Fidil Rahmat mengamati dua ekor ikan beong di penangkarannya. Dua ikan besar-besar itu adalah indukan. Matanya seperti tak mau berpindah ke objek lain. Hampir setiap saat dia mengamati indukan ikan itu. Sebab jika tidak dipantau, proses reproduksinya bisa gagal.

Fidil memang sedang serius sekali mengembangkan ikan yang memiliki nama latin Mystus nemurus ini. Ikan ini meski hidup liar di sungai-sungai di beberapa wilayah Indonesia, telah menjadi salah satu ikon Magelang.

Di Magelang, beong jadi menu andalan wistawan. Selain memiliki tekstur daging yang lembut, juga rasanya gurih. Biasanya dimasak mangut.

Tingginya kebutuhan ikan ini membuat populasinya semakin menurun. Bahkan, kini sangat susah ditemukan sehingga banyak warung makan yang menjual ikan kali serupa untuk kemudian dinamai beong.

”Padahal secara tekstur tubuh beda sekali. Beong memiliki kepala lebih besar, warna hitam dengan tiga patil (senjata) di tubuhnya,” kata dia.

Fidil yang merupakan Kepala UPT Balai Benih Ikan Sawangan dan kawan-kawannya kemudian mencoba mengeksplorasi dan melakukan eksperimen untuk mengembangbiakkan ikan beong dengan cara menangkarkan di kolam pada akhir tahun 2013. Namun, ide melakukan konservasi sumber daya alam ini, awalnya tak mulus. Beberapa kali melakukan penangkaran selalu gagal. ”Selama enam bulan, ikan ini belum menunjukkan tanda-tanda dapat berkembang biak secara maksimal,” katanya.

Dia menduga kekagagalan saat itu karena ikan ini ternyata butuh adaptasi dengan lingkungan yang cukup lama. Bahkan butuh waktu enam bulan lebih baru mereka bisa hidup normal. ”Termasuk kawin,” ungkap dia.

Dia mengungkapkan, setelah enam bulan, tepatnya di pertengahan tahun 2014, proses perkawinan dua indukan beong itu terjadi. Ia bersorak. Namun, saat proses perkawinan dua induk beong ini juga memerlukan waktu dan proses amat panjang.
”Kami menunggu sampai 3-4 jam untuk proses perkawinannya. Dalam kurun waktu tersebut, indukan beong bisa kawin selama 10-12 kali. Kami juga harus telaten memindahkan telur dengan substrat yang terbuat dari ijuk,” paparnya.

Saat proses perkawinan itu, Fidil dan kawannya bisa menyaksikan mulut dua indukan ikan beong terbuka lebar. Sementara, ikan beong betina mengalami luka karena tubuhnya dibelit saat kawin. Sebab, saat proses perkawinan ikan jantan membelit tubuh betina hingga puluhan kali sampai sel telurnya habis.

”Dalam satu kali proses perkawinan, satu ekor ikan beong betina bisa menghasilkan 15 ribu telur. Dengan penangkaran di kolam mini, larva juga aman dari predator. Kalau dilepas ke alam, paling hanya 1 persen telur yang bertahan hidup sampai besar,” katanya.

Anakan beong berukuran 3 sentimeter itu kemudian ditangkarkan. Baru, ketika anakan mencapai panjang hingga 5 atau 7 sentimeter, pihaknya akan melepas liarkan lagi ikan beong itu ke habitat aslinya di Kali Progo. (*/ton)