Titiek Kagumi Kelengkeng Itoh

168
Titiek Suharto. (RADAR KEDU)
Titiek Suharto. (RADAR KEDU)
Titiek Suharto. (RADAR KEDU)

MUNGKID—Kebun kelengkeng di Dusun Dusun Sabrangrowo, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, kemarin, didatangi tamu spesial: Hj Titiek Soeharto.

Mengenakan kemeja putih dan bertopi caping khas petani, anak keempat mantan Presiden (almarhum) Soeharto itu serius melihat-lihat kebun kelengkeng.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI itu tampak terkagum-kagum melihat kebun kelengkeng Itoh Super Borobudur. Titiek berujar, jika petani Indonesia mau berpikir dan berinovasi seperti dilakukan Isto Suwarno—sang pemilik kebun kelengkeng—maka dalam dua-tiga tahun ke depan, Indonesia tidak ada lagi impor buah.

“Bahkan mungkin justru kita yang akan ekspor ke mereka,” kata mantan istri Prabowo Subianto, itu. “Kalau seperti ini, saya optimistis Indonesia tidak akan impor buah, khususnya kelengkeng lagi ke depan.”

Titiek meminta perwakilan Pemkab/Pemkot untuk datang, melihat, dan belajar kepada petani sukses seperti Isto Suwarno di Borobudur, Kabupaten Magelang. “Dengan begitu, mereka bisa membuat kebijakan untuk petani yang tepat.”

Dengan kebijakan yang tepat, perempuan paruh baya itu optimistis tidak ada lagi petani miskin di Indonesia. “Bayangkan saja, setiap bulan mereka bisa menghasilkan Rp 3 juta dari buah kelengkeng ini. Setelah dari sini, saya akan bicara dan berdiskusi dengan Kementerian Pertanian. Saya akan sampaikan apa yang saya lihat ini.”

Untuk diketahui, Siti Hediati Hariyadi atau lebih dikenal dengan nama Titiek Soeharto merupakan anak keempat Soeharto yang lahir ketika Soeharto menjabat sebagai Panglima TT-IV/Diponegoro.
Titiek menikah dengan Prabowo Subianto pada Mei 1983. Pasangan ini dikaruniai seorang anak, Didiet Prabowo. Didiet menghabiskan sebagian masa sekolahnya di Boston, AS. Namun perkawinan pasangan ini berakhir perceraian.

Catatan koran ini, kelengkeng Itoh Super Borobudur merupakan varietas baru kelengkeng. Pohon kelengkeng ini merupakan hasil pengembangan dari Isto Suwarno, seorang petani.

Setidaknya, 250 pohon kelengkeng ditanam di lahan seluas 1,5 hektare milik bengkok kepala Desa Borobudur. Seluruh pengelolaannya ditangani oleh Badan Umum Milik Desa (BUMDes) Graha Mandala Desa Borobudur.

Direktur Utama BUMDes Graha Mandala Borobudur Jamari menjelaskan, pengembangan kelengkeng jenis Itoh di Borobudur, bukan tanpa alasan. Sebab, kelengkeng Itoh memiliki sejumlah keunggulan dibanding jenis lainnya. Antara lain, rasa daging buah lebih tebal dan manis serta memiliki biji yang kecil.

“Panennya juga lebih cepat berkisar antara 2,5 – 3 tahun saja. Bahkan, (masa panen) bisa disesuaikan dengan keinginan, bisa lebih cepat menggunakan pupuk organik tertentu. Keuntungan rata-rata mencapai Rp 64 juta per 100 pohon,” ujar Jamari, baru-baru ini.

Jamari mengatakan, tujuan budidaya ini juga untuk meningkatkan produktivitas lahan di kawasan Borobudur. Utamanya, lahan pertanian nonpangan agar menghasilkan produk pertanian yang bernilai jual tinggi. Sehingga diharapkan dapat memunculkan buah-buahan kelengkeng khas Borobudur.

“Kami juga ingin menangkap peluang pengunjung Candi Borobudur meningkat 3,5 juta orang per tahun. Ke depan, budidaya buah ini bisa dijadikan peluang bisnis seperti paket wisata menikmati dan petik buah sendiri di Borobudur.” (jpnn/isk)