Pengatur Lalulintas Ternyata Bupati Antono

125
URAI KEMACETAN : Bupati Antono (tengah) terlihat mengatur lalulintas untuk mengurai kemacetan yang terjadi usai acara pesta durian di Desa Rogoselo Kecamatan Doro, Minggu (1/3) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
URAI KEMACETAN : Bupati Antono (tengah) terlihat mengatur lalulintas untuk mengurai kemacetan yang terjadi usai acara pesta durian di Desa Rogoselo Kecamatan Doro, Minggu (1/3) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
URAI KEMACETAN : Bupati Antono (tengah) terlihat mengatur lalulintas untuk mengurai kemacetan yang terjadi usai acara pesta durian di Desa Rogoselo Kecamatan Doro, Minggu (1/3) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)

KAJEN-Sejumlah warga yang terjebak kemacetan usai acara pesta durian di Desa Rogoselo Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan, Minggu (1/3) kemarin, tercengang. Saat mendapati orang yang mengatur arus lalulintas di pertigaan Sawangan-Larikan-Doro adalah Bupati Pekalongan Amat Antono.

Beberapa warga bertanya-tanya, kenapa petugas polisi yang mengatur lalulintas justru memakai baju batik dan tidak memakai seragam sebagaimana mestinya? Ada juga yang terus berlalu lantaran menganggap pria paruh baya pengatur lalulintas itu hanya warga biasa yang melakukannya dengan sukarela.

“Polisi kok pakai batik. Eh, itu polisi apa bukan sih, kok pada ngelihatin,” kata seorang warga sembari menggelengkan kepala di atas laju kendaraannya. “Itu kan Pak Antono, kok malah bupati yang mengatur jalan. Apa ndak ada polisi,” timpal warga lain yang juga terus melaju.

Seorang pengunjung Albert, 40, mengaku salut dengan tindakan yang dilakukan oleh Bupati Pekalongan. Meski tak selihai petugas kepolisian, warga Kecamatan Tirto tersebut mengacungi jempol dengan aksi bupati mengurai kemacetan. “Saya apresiasi sekali tindakan beliau. Saya salut,” ungkapnya.

Namun, kata Albert, kemacetan panjang yang terjadi saban tahun tersebut harusnya ditindaklanjuti dengan pelebaran jalan. “Seharusnya jalannya diperlebar. Karena wilayah Rogoselo dan Lemahabang memang seharusnya dikembangkan, baik wisata tahunan maupun produksi duriannya,” jelasnya.

Bupati Antono mengatakan, tindakan tersebut dilakukan secara spontan, melihat kondisi macet dan tak ada petugas kepolisian. “Ya tiba-tiba saja saya ingin turun dari motor. Yang namanya pemimpin itu kan memang harus memiliki kepekaan dan kepedulian terutama pada saat situasi kritis seperti ini,” kata Antono.

Sejumlah warga juga terlihat memanfaatkan momen untuk mengabadikan kejadian langka itu. Bahkan di antaranya berfoto bersama Bupati Pekalongan.

Sementara itu, terkait kemacetan sepanjang 7 kilometer di jalur menuju Desa Rogoselo tersebut, panitia penyelenggara, Casmidi, mengatakan bahwa kemacetan tersebut disebabkan karena sempitnya jalan. Bukan hanya usai acara, kemacetan juga sudah terlihat ketika acara dimulai. “Tersendatnya arus lalu lintas terutama terjadi di titik-titik tanjakan dan kelokan jalan,” terangnya.

Menurutnya, membanjirnya pengunjung pada tasyakuran durian tersebut diikuti para petani dari Desa Sidoharjo Rogoselo, Pungangan dan Pedawang tersebut di luar prediksi. “Kami telah berupaya maksimal, namun kemacetan memang tak terhindarkan. Pak Bupati juga terpaksa jalan kaki dan diboncengkan sepeda motor,” imbuhnya. (hil/ida)