Darurat Sampah, 100 Ton/Hari

143
KOMPOSER RUMAH TANGGA : Kepala Dinas Ciptakaru Kota Salatiga saat menunjukkan alat pengelola sampah rumahan (komposer) untuk mengubah sampah organik menjadi pupuk. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
KOMPOSER RUMAH TANGGA : Kepala Dinas Ciptakaru Kota Salatiga saat menunjukkan alat pengelola sampah rumahan (komposer) untuk mengubah sampah organik menjadi pupuk. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
KOMPOSER RUMAH TANGGA : Kepala Dinas Ciptakaru Kota Salatiga saat menunjukkan alat pengelola sampah rumahan (komposer) untuk mengubah sampah organik menjadi pupuk. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

SALATIGA—Volume sampah di Salatiga sudah tembus 100 ton perhari. Jumlah itu masih akan terus meningkat. Sedangkan data dari Dinas Ciptakarya dan Tata Ruang (Ciptakaru) Kota Salatiga, rata-rata per hari hanya mampu mengangkut 80 ton atau kurang lebih 326 meter persegi. Diperkirakan, lima tahun ke depan (tempat pembuangan akhir) TPA Ngronggo, tidak akan mampu menampung sampah di Salatiga.

Karena itulah, Kepala Dinas Ciptakaru Kota Salatiga, Mustain Soeradi, meminta kesadaran masyarakat agar mau mengelola sampah rumah tangga dengan baik. “Kami bersama komunitas lingkungan hidup berinovasi menciptakan alat pengelola sampah rumah tangga. Hal itu menjadi persoalan mendasar,” katanya.

Menurutnya, inovasi pertama yang perlu dilakukan adalah menggunakan alat bernama komposer. Alat ini, akan mengubah sampah organik menjadi pupuk. Hasilnya, tentu saja bisa dipakai ataupun dijual. “Tapi mengubah budaya masyarakat memang tidak mudah. Kebiasaan membuang sampah di sungai dan tempat-tempat tertentu, mungkin sudah mengakar,” katanya prihatin.

Mengenai langkkah penanggulangan dari hulu sampai hilir, Mustain menambahkan, saat ini sampah di TPA Nggronggo, baunya sudah mulai mengganggu warga sekitar. Karena itulah, Dinas Ciptakaru perlu bantuan semua pihak. Karena masalah sampah adalah masalah bersama.

“Meskipun kami berusaha serius menangani sampah, tapi jika tidak ada dukungan dari masyarakat yang membuang sampah, maka kerja Dinas akan sia-sia,” katanya.

Jika di-break down masalah sampah, katanya, terutama plastik, tidak bisa serta merta menyalahkkan masyarakat. Karena pedagang dan pemilik toserba, memakai plastik dari bungkus sampai tas plastik untuk membawa pulang.

“Wajar, jika kemudian sampah plastik semakin banyak. Memang harus ada, revolusi bungkus dengan bahan biodegrable. Agar mudah hancur dengan tanah,” tandasnya.

Kata Mustain, pihaknya akan mencoba mulai membiasakan rapat dengan menggunakan stopmap kertas. Pasalnya, stopmap kertas, jika tidak digunakan lagi dan menjadi sampah, lebih mudah hancur dengan tanah. Dan dirinya berharap di lingkungan Pemkot Salatiga juga memperhatikann hal tersebut. Dari pemisahan pembuangan sampah antara organik dan non organik.

“Kalau revolusi ini tidak segera dilakukan, saya khawatir volume sampah di Salatiga nantinya tidak bisa dikendalikan. Saya juga berharap komunitas pecinta lingkungan di Salatiga semakin meningkat, agar tugas dinas semakin ringan. Karena Dinas Ciptakaru juga harus mengurusi masalah penanaman pohon,” pungkasnya. (abd/ida)