AJIE MH/RADAR SEMARANG
AJIE MH/RADAR SEMARANG
AJIE MH/RADAR SEMARANG

Juara merupakan akumulasi dari hasil latihan keras. Tak terkecuali bagi Khonsa Wayya Surya Lakshita, bebulutangkis dari USM Tri Star yang menjuarai nomor Pemula Putri Djarum Foundation – Tugu Muda Cup 2015. Namun gadis cantik ini mengaku paling malas ketika harus menjalani gemblengan fisik.

Ajie MH

BAGI dara yang akrab disapa Khonsa, latihan fisik bisa jadi beban terberatnya. “Ya, setelah fisik, pasti badanya pegal-pegal. Malah sampai njarem beberapa hari,” kata gadis kelahiran Semarang, 31 Juli 2001.

Meski begitu, putri pasangan Gunadi dan Nugraheni Indahsari ini tetap prima saat bertanding. Performanya yang gesit menjadi ancaman bagi lawan tandingnya. Itu karena dia selalu berlatih setiap hari.

Pebulutangkis yang masih duduk di bangku kelas 8 SMP Muhammadiyah Semarang ini mengaku sudah tidak bisa pisah dari raket badminton. Hidupnya merasa kurang jika sehari saja tidak menepok-nepok bulu. Karena itu, jangan heran jika saban pagi dan sore ia selalu main badminton. “Rasanya sudah kayak candu. Sehari saja tidak main, malah badan kaku semua. Pernah sih malah libur empat bulan. Gara-gara cedera ruas 4 dan 5 pinggang, harus vakum empat bulan. Saat itu masih ikut Pelatda,” kenangnya.

Yang menarik, Khonsa pernah dipoles di Pelatnas Djarum Foundation selama dua tahun. “Awalnya saya dimasukan Papa ke Kartika Buana, 2009 lalu. Cuma setahun, pindah ke USM Tri Star. Baru satu tahun di sana, ditarik suruh ikut Pelatda Djarum Foundation sampai 2013, dan sekarang balik lagi ke USM Tri Star,” ungkap pengidola Liliana Natsir.

Rentengan prestasi nasional mulai disabetnya ketika gabung di Pelatnas. Sebut saja Juara 1 O2SN 2014 dan USM National Cup 2014. Dia juga pernah menyabet menggondol emas di Popda 2014. “Kalau kejuaran nasional paling berkesan, pas di Surabaya tahun 2012. Nama kejuarannya saya lupa. Yang jelas, itu piala nasional pertama saya,” tutur Khonsa sambil terkekeh.

Latihan intens itu ternyata tidak menganggu Khonsa dalam menenggak ilmu di sekolah. Meski mengaku tidak pernah memegang buku pelajaran di luar jam sekolah, ia tetap langganan ranking lima besar di kelasnya.

Dibalik wajah polosnya, gadis berkulit putih yang baru akan beranjak remaja ini menyimpan obesi mulia. Khonsa ingin memberangkatkan haji kedua orang tuanya dari uang hasil juaranya. “Memang hadiah kejuaraan badminton nggak seberapa. Tapi kalau dikumpulkan kan lumayan. Sekarang sudah sampai puluhan juta, lho,” pungkasnya. (*/smu)