SULAP MOBIL JADI TOKO : Salah satu Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan WR Supratman menyulap mobilnya jadi toko berjalan yang hasilnya cukup menjanjikan untuk menyambung kebutuhan hidup. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
SULAP MOBIL JADI TOKO : Salah satu Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan WR Supratman menyulap mobilnya jadi toko berjalan yang hasilnya cukup menjanjikan untuk menyambung kebutuhan hidup. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
SULAP MOBIL JADI TOKO : Salah satu Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan WR Supratman menyulap mobilnya jadi toko berjalan yang hasilnya cukup menjanjikan untuk menyambung kebutuhan hidup. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)

Para pedagang kaki lima (PKL) terus mengasah kreativitasnya. Banyaknya larangan berjualan di tempat strategis, mendorong PKL menyulap mobil pribadi bak terbuka menjadi toko berjalan. Selain praktis dan ngirit biaya, bisa berpindah-pindah tempat dalam waktu singkat. Tinggal menyesuaikan keramaian yang dibanjiri pembeli, mulai dari pasar tradisional hingga jalan-jalan protokol. Sekaligus menghindari penertiban petugas keamanan, satpol PP.

PKL bermobil banyak ditemui di sepanjang Jalan Pahlawan, Jalan Pemuda, Jalan Majapahit, hingga Jalan Arteri Soekarno-Hatta mulai dari Jembatan Citarum hingga traffic light Tlogosari. Bahkan, di kanan kiri jalan dua arah Soekarno-Hatta tersebut bertebaran PKL bermobil yang menjual buah rambutan, durian, telur asin, minuman carica, karpet, serta kebutuhan rumah tangga lainnya. Selain menggunakan mobil, ada pula yang memakai kendaraan roda tiga dan sepeda motor.

”Lebih aman dan praktis, Mas. Dagangan tinggal digelar di bak belakang dan pasang tulisan jual durian Jepara, sudah laris manis,” kata Agus, PKL buah durian yang jualan menggunakan mobil pikap Mitsubishi T120.

Deretan PKL bermobil juga banyak ditemukan di sepanjang Jalan Tlogosari Raya. Rata-rata mereka menjual buah-buahan dan kue. Sempitnya jalan Tlogosari sempat membuat arus lalu lintas tersendat. Apalagi banyaknya PKl yang mangkal di kawasan tersebut.

PKL bermobil juga ditemukan di Jalan Veteran dan Sriwijaya. Di Jalan Sriwijaya, tercatat ada tiga PKL bermobil yang menjual buah rambutan dan keripik singkong. Sedangkan di Jalan Veteran, PKL bermobil mangkal di sekitar kantor KPU Jateng. Rata-rata mereka berjualan buah rambutan dan durian. Tiap malam dan terutama Sabtu dan Minggu pagi, juga berjejer sejumlah PKL bermobil di Taman KB. Dagangannya beragam, dari kuliner hingga pakaian.

Tidak hanya itu, PKL bermobil juga mangkal di dekat Stadion Diponegoro Jalan Ki Mangunsarkoro Semarang, kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Jalan Gajah Raya, Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jalan Menteri Supeno, Pasar Dargo di kawasan YAI Permai dekat Alun-Alun Kota Semarang dan Pasar Krempyeng Kalibanteng di Jalan WR Supratman.

”Saya berpindah-pindah tempat, menyesuaikan mana yang sedang ramai. Misalnya untuk hari Minggu pagi, saya memilih berjualan di Pasar Krempyeng Kalibanteng Jalan WR Supratman,” kata Thohirin, 50, PKL bermobil yang menjual tas, saat berbincang dengan Radar Semarang di Jalan WR Supratman, Semarang, Minggu (1/3) kemarin.

Thohirin mengaku menjadi penjual tas menggunakan mobil sejak 2 tahun lalu. Awalnya, ia berusaha membuka bisnis berjualan tas dengan pembeli orang-orang di sekitarnya. Karena hasil keuntungannya cukup menarik, akhirnya ia mengembangkan usahanya dengan kulakan lebih banyak lagi.

Lantaran tidak memiliki kios, ia akhirnya memanfaatkan sebuah mobil Toyota Kijang H 9246 MS miliknya untuk berjualan. ”Kadang juga berjualan di Pasar YAI dekat Alun-Alun Kota Semarang,” ujar pria asal Kebumen yang tinggal di daerah Sawah Besar Kaligawe Semarang ini.

Alasan Thohirin berjualan menggunakan mobil lantaran lebih praktis dan ngirit biaya. Barang-barang dagangannya tinggal dimasukkan ke dalam mobil. Dia berangkat bersama istrinya menuju tempat mana saja yang dianggap ramai pembeli.

“Bensinnya juga murah. Karena saat berdagang, mobil dalam kondisi berhenti. Jadi, lebih praktis, irit dan nyaman. Daripada mobilnya menganggur, dipakai bisnis bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tidak usah umbal ataupun mbecak,” katanya.

Thohirin mengaku, omzet berjualan tas dengan menggunakan mobil bisa dibilang lumayan. ”Ya namanya juga mencari rezeki. Kayak orang mancing, kadang dapat banyak, kadang juga sedikit. Yang penting bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” katanya.

Sejauh ini, lanjut Thohirin, berjualan menggunakan mobil tidak ada hambatan ataupun aturan. Caranya sangat mudah, tinggal menyediakan perangkat dagangan dan mobil siap berjualan. Mengenai retribusi, terbilang sangat murah. ”Kalau di sini hanya dikenai retribusi Rp 2 ribu sampai Rp 5 ribu. Itu untuk biaya paguyuban pedagang. Kami dikasih karcis paguyuban,” katanya.
Penarikan sebesar itu, tidak memberatkan. Ia mengaku selama ini tidak ada aturan-atauran khusus untuk berjualan menggunakan mobil. ”Asal tidak mengganggu lalu lintas saja,” katanya.

Ditanya apakah tidak pernah dirazia oleh satpol PP, Thohirin mengatakan sejauh ini tidak pernah. Pada prinsipnya, asal tidak mengganggu lalu lintas atau masyarakat sekitar saja. ”Tidak pernah ada razia satpol PP, kami berjualannya juga memilih di lokasi-lokasi pinggir. Kecuali kalau di Simpang Lima, mungkin bisa kena razia satpol PP,” katanya.

Pedagang lainnya, Sutiyoso, 40, menyampaikan hal senada. Dia merasa berdagang menggunakan mobil, lebih praktis dan cepat. Jika terpaksa dilarang oleh petugas satpol PP, bisa dengan cepat mengemasi barang-barang dagangan dengan mudah. ”Sejauh ini aman dari razia satpol PP. Kami mencari rezeki dengan halal, tidak mengganggu masyarakat, masak akan dirazia oleh satpol PP,” kata pedagang pakaian ini.

Menurutnya, berdagang menggunakan mobil merupakan kreasi para pedagang untuk bisa tetap survive di tengah persaingan. ”Kalau tidak berusaha mencari rezeki, apa bisa datang sendiri? Ya jelas tidak,” katanya.

Terkait penataan, ia mengaku setuju. Pemerintah dipersilakan menentukan titik-titik mana saja yang tidak diperbolehkan untuk berdagang. Sehingga hal itu bisa steril dan bersih. Namun beberapa titik perkotaan juga sangat diperlukan untuk tujuan wisata oleh-oleh, kuliner atau apa saja. ”Saya yakin, masyarakat juga senang, dengan adanya tempat perbelanjaan berbasis jalanan,” katanya.

Sedangkan seorang warga, Dewi Sinta Nugraheni, 25, mengaku senang bisa berbelanja di Pasar Kremyeng Kalibanteng. ”Saya suka aja jalan-jalan pagi bersama keluarga sambil melihat pernak-pernik. Harganya murah, barangnya unik-unik dan bisa ditawar lagi. Saya malah tidak suka di mal,” katanya.

Demikian halnya dengan Adit, salah seorang pedagang di kawasan Taman KB. Dia memodifikasi mobilnya sehingga bisa dimuati banyak barang dagangan beserta perkakas pendukung lainnya. Sesampainya di tempat berjualan, ia tinggal membuka mobil bagian belakang. ”Saya mulai berjualan dengan menggunakan mobil ini sejak tahun 2012. Saya pilih jualan dengan mobil, karena lebih mudah berpindah tempat,” ujarnya.

Menurutnya, hal itu lebih praktis, tanpa harus menggelar lapak. Pun, saat selesai berjualan. Barang-barang yang di dalam mobil tinggal dirapikan, tutup pintu bagian belakang, kemudian bergeser ke lain tempat atau langsung pulang ke rumah. ”Dalam sehari saya jualan dua kali, kalau pagi pukul 10.00–17.00. Kalau di kawasan Taman KB ini dari pukul 20.00–23.00,” ujarnya.

Namun demikian, berjualan dengan menggunakan mobil tak lantas tanpa hambatan. Sebelumnya ia bersama beberapa rekannya pernah diberi surat peringatan agar tidak berjualan di kawasan tersebut. ”Waktu itu ada petugas yang datang kasih surat peringatan. Setelah itu, kami minta izin dan sekarang kalau jualan tinggal bayar parkir,” ujarnya. (amu/aro/dna/ida/ce1)