KRAPYAK – Kasus dugaan pencabulan atas terdakwa Budiyono, 40, warga Bugangan, Semarang Timur, yang juga mantan pemain PSIS tahun 80-an, Selasa (3/3) besok, akan kembali berlanjut dengan agenda pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri Semarang. Terdakwa diduga melakukan pencabulan terhadap Hayati Mulyani alias Yani, seorang Pemandu Karaoke (PK).

”Terdakwa merupakan mantan pemain PSIS di era setelah Ribut Wahidi. Dulu pernah menjadi pemain utama PSIS. Selain itu pernah main di Bontang FC,” kata Nugroho Budianto SH, kuasa hukum terdakwa melalui saluran teleponnya, Minggu (1/3).

Nugroho menyebutkan, kliennya siap untuk menunggu sidang lanjutan, ia juga memastikan kliennya tidak bersalah. ”Klien kami tidak salah karena perbuatan itu secara sadar dilakukan dan tanpa unsur paksaan alias mau sama mau, dan secara sadar dilakukan,” sebutnya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Farida, SH menyebutkan, perbuatan terdakwa diancam pidana Pasal 378 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP. Farida mengatakan, kasus dugaan pencabulan terjadi pada 24 dan 25 Oktober malam tahun lalu di Jalan Kanguru Raya Semarang. Selain berbuat cabul, Budiyono juga melakukan penipuan terhadap korban. ”Kasus bermula saat korban Yani yang mengeluh sakit, dikenalkan terdakwa oleh seorang temannya bernama Dina. Kepada korban, dikatakan terdakwa mampu mengobati penyakitnya. Terdakwa juga mengatakan, ia telah diguna-guna oleh mantan suaminya,” kata Jaksa.

JPU menyebutkan, korban yang menginginkan sakitnya sembuh diminta mengikuti ritual yang dilakukan terdakwa. ”Ritual pun dilakukan di kos milik korban di Jalan Kanguru Raya, Semarang. Ritual dilakukan dengan, menyuruh korban telanjang dan tidur sembari ditutupi kain mori,” katanya

Dengan dalih membersihkan guna-guna, lanjut JPU, terdakwa mengatakan harus menyedotnya dari kemaluan korban. Tak hanya itu, terdakwa juga mencium dada dan mulut korban. Usai ’ritualnya’, terdakwa yang mengaku didampingi jinnya bernama Raden Aria Teja mengatakan ingin menyetubuhi, agar bisa melindungi korban dari guna-guna. ”Korban yang takut dan menginginkan kesembuhnya, akhirnya menuruti. Usai ritualnya, terdakwa meminta mahar Rp 200 ribu. Kejadian berulang esoknya. Terdakwa kembali mendatangi kos korban dan mengatakan, akan melakukan ritual lagi. Kali ini, ritual brokohan atau ritual ingkung,” sebut Jaksa Farida.

Usai ritual, terdakwa meminta korban dibelikan motor namun karena tidak mempunyai uang, korban hanya memberi Rp 500 ribu. Atas seluruh ritual itu, penyakit korban tak kunjung sembuh. Korban yang kembali datang ke salon milik Dina, bertemu dengan seorang wanita bernama Dwi. Kepada korban, Dwi mengaku juga pernah menjadi korban ritual terdakwa. Merasa ditipu, korban didampingi Dwi melaporkan kasus itu ke polisi. (mg21/zal/ce1)