MAGELANG – Kebijakan pemerintah pusat menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) RON 88 atau premium tanpa aba-aba, mengagetkan awak angkutan. Mereka mengaku kerepotan dalam menentukan tarif baru.

Ketua Forum Komunikasi Angkutan Kota Magelang Darsono menyesalkan harga BBM yang kerap berubah. Sebab, untuk menentukan tarif baru yang sesuai dengan kondisi terkini, perlu dilakukan pengkajian ulang dan harus survei kelapangan.

“Ketentuan tarif yang baru, hari Senin besok (hari ini, red) rencananya kami akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Magelang dan Organisasi Gabungan Angkutan Darat (Organda) untuk membahas ini,” katanya, kemarin.

Menyikapi kebijakan baru, pihaknya menghendaki tarif pelajar naik dari Rp 1.750 menjadi Rp 2.000, sedangkan untuk umum dari Rp 3.500 menjadi Rp 4.000. Namun demikian, tarif fleksibel yang diterapkan angkutan kota (angkot) untuk para penumpang masih berjalan. Sehingga per 1 Maret, pihaknya masih menggunakan ketentuan tarif lama saat BBM masih di harga Rp 6.700 perliter dengan tarif pelajar Rp 1.750 dan penumpang umum Rp 3.500.

“Kenaikan kali ini tidak terlalu bergejolak seperti saat pemerintah menaikkan harga hingga Rp 2.000 beberapa waktu lalu,” akunya.

Dia mengungkapkan, masyarakat memang sudah mulai sadar dengan kondisi saat ini. Harga BBM yang naik turun, juga ikut mempengaruhi tarif. “Penumpang sudah tahu, kalau BBM naik, tarif angkot juga ikut naik,” terangnya.

Hanya saja, masih ada penumpang yang alot. Pihaknya pasang strategi untuk mensosialisasikan kepada penumpang yang saat itu naik angkot. Tapi untuk menempel stiker tarif baru, rasanya belum siap. “Soalnya, baru satu mingguan ini stiker tarif yang kemarin ditempel,” keluhanya.

Agus, 30, salah satu sopir angkot jalur 1 mengaku, belum menemui keluhan dari penumpangnya terkait kenaikan BBM. Pasalnya, tarif baru belum disesuaikan dengan kenaikan BBM saat ini. “Tidak ada yang mengeluh, kami masih pakai tarif yang kemarin kok. Belum yang baru,” ucapnya.

Sementara itu, Kasir SPBU Diponegoro, Cacaban, Magelang Tengah, Rizky Kristiani, 24, menjelaskan, per 1 Maret ada perubahan harga per liter premium Rp 6.700 menjadi Rp 6.900, pertamax dari Rp 8.050 menjadi Rp 8.250. Sementara untuk solar tidak ada kenaikan, harga tetap Rp 6.400.

“Memang berbeda dari sebelumnya, yang mengeluh hanya satu dua saja, konsumen yang lain biasa-biasa saja. Kemungkinan karena kenaikannya tidak banyak, mungkin juga ada yang belum tahu,” jelasnya. (put/ton)