Manfaatkan Kain Perca, Kerap Jadi Pembicara

214
INSPIRATIF: Ristia Kadiasti menunjukkan salah satu produk hasil karyanya. (DOK PRIBADI)
INSPIRATIF: Ristia Kadiasti menunjukkan salah satu produk hasil karyanya. (DOK PRIBADI)
INSPIRATIF: Ristia Kadiasti menunjukkan salah satu produk hasil karyanya. (DOK PRIBADI)

Yang muda yang berkarya. Begitu istilah yang patut disematkan kepada Ristia Kadiasti. Di usianya yang masih muda, ia mampu membuat karya yang pasti mendapat apresiasi luar biasa dari orang lain. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL

NAMA lengkapnya Ristia Kadiasti. Namun ia kerap disapa Tya. Alumnus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang ini terbilang sukses menjalankan usaha aksesori cewek berbasis handmade (kerajinan tangan). Ia juga berhasil memasarkan produknya dengan brand Heppie Yippie via online hingga seluruh penjuru nusantara.

Kepada Radar Semarang, Tya mengaku hanya menekuni hobi saja. Ia yang sejak dulu suka menjahit itu kemudian mencoba membuat kreasi yang akhirnya disukai banyak orang.

”Kebetulan di rumah ada mesin jahit. Orang tua juga tidak segan-segan mengajari ketika saya mengalami kesulitan,” ungkap gadis yang mengaku belajar secara otodidak ini.

Tya memulai usaha sejak 2011. Waktu itu, ia masih duduk di bangku kuliah, tepatnya Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Udinus. Dengan memanfaatkan kain perca, ia mulai menciptakan beberapa model tas dan bantal yang memang menjadi fokus utamanya. Di samping itu, ia juga membuat beberapa aksesori cewek lainnya.

”Saya kerjakan sendiri semua barang yang saya produksi. Dulu memang pernah ada karyawan, tapi cuma sebentar saja karena saya sempat vakum beberapa waktu,” katanya.

Dalam mengerjakan produknya, gadis kelahiran Semarang 19 September 1990 ini mengaku membutuhkan satu dua hari saja. Namun, ketika pesanan itu rumit, maka menambah waktu lima hari hingga satu minggu. Misalnya, pembuatan dengan gambar kartun tertentu, dan juga ketika melayani permintaan yang aneh-aneh.

”Kalau begitu biasanya butuh waktu lama,” ungkap Tya menambahkan selain menerima pesanan juga menyediakan stok (ready stock).

Untuk memasarkan produknya, Tya memanfaatkan media online. Selain melalui website pribadi, ia tak juga menggunakan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya. Praktis, produknya pun menyebar hingga sejumlah daerah di Indonesia.

”Rata-rata peminatnya adalah remaja karena memang target market saya seperti itu,” terang gadis yang kini melanjutkan kuliah S2 di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini.

Meski sambil belajar, Tya mengaku akan tetap terus mengembangkan usahanya. Tidak hanya menjual karya pribadi, tetapi juga berencana memproduksi secara masal. Sehingga stoknya semakin banyak, dan dapat melayani banyak pelanggan. “Harapannya dapat menembus pasar luar negeri juga. Tidak hanya di Indonesia saja,” terangnya.

Di samping kesibukannya menjalani bisnis dan kuliah, Tya juga kerap menjadi pemateri workshop. Salah satunya project Make it Class. Selain itu, ia juga pernah mengisi rubrik tips & trick di salah satu tabloid ternama di Semarang.

”Tahun 2013 lalu saya meluncurkan buku Beauty Bag, Kreasi Tas Cantik dari Kain. Saat ini masih bisa didapatkan di toko buku Gramedia kok,” pungkasnya berpromosi. (*/aro/ce1)