Disperindag Gelar Operasi Pasar

114

KENDAL – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kendal, bakal melakukan inspeksi ke sejumlah pasar tradisional. Langkah ini dilakukan terkait dengan lonjakan harga beras yang terjadi beberapa pekan ini dan banyak dikeluhkan masyarakat.

“Kami akan lakukan operasi pasar dan melakukan survei kepada distributor beras untuk memastikan harga dan penyebab kenaikannya. Sebab kenaikan harga beras berkisar Rp 2.500-3.000 per kilogram itu sudah sangat tinggi dan meresahkan masyarakat,” kata Sekretaris Disperindag Kendal, Heru Yuniarso, Jumat (27/2).

Sejauh ini pihaknya sudah mendapatkan informasi dan keluhan dari masyarkat akan harga beras yang mencapai Rp 12 ribu per kilogram. Selain itu inspeksi dilakukan agar tidak terjadi kecurangan, yakni pedagang atau oknum yang mengambil keuntungan atas kenaikan harga beras.

Pihaknya juga akan mengecek langsung ke Bulog untuk memastikan ketersediaan beras di Kendal apakah mencukupi atau tidak. Heru menambahkan, apabila kekurangan stok, maka Pemkab Kendal bakal siap mengelar operasi pasar. “Cadangan beras di Bulog sekitar 5.000 ton. Stok ini mampu untuk satu bulan,” imbuhnya.

Kenaikan beras ternyata juga berimbas pada kenaikan harga nasi aking yang ikut naik. Kenaikannya mencapai 1.500 perkilogramnya. Dari harga 3.000 rupiah, menjadi 4.500 rupiah perkilogramnya.

Seperrti yang dikatakan penjual nasi aking di pasar Kendal, Sarmini, 50. Menurut Sarmini, selain karena kenaikan harga beras, naiknys harga nasi aking, juga dikarenakan masuk musim hujan. “Sehingga kesulitan menjemur, sehingga stok di pedagang kehabisan,” katanya.

Sarmini mengaku, sebelum ada kenaikan harga beras di pasaran dan musim hujan, dirinya setiap hari bisa mendapat setoran nasi aking dari masyarakat, sekitar 2 kwintal perhari. Namun sekarang setelah ada perubahan harga beras dan musim, tinggal 1 kwintal. “Perkilonya, saya mendapat keuntungan 500 rupiah,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu pembeli nasi aking, Solikatun, 46, mengaku setiap hari ia membeli nasi aking di Sarmini, sebanyak 2 kG. “Nasi itu, untuk campuran beras yang akan ditanak. Sebab, tambahnya, nasi aking bisa untuk obat diabetes,” kata Solikatun. (bud/fth)