PROYEK FINISHING : Pihak rekanan masih melakukan pemeliharaan Tugu Adipura, meski masa kontraknya sudah habis sejak Desember 2014 lalu. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
PROYEK FINISHING : Pihak rekanan masih melakukan pemeliharaan Tugu Adipura, meski masa kontraknya sudah habis sejak Desember 2014 lalu. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
PROYEK FINISHING : Pihak rekanan masih melakukan pemeliharaan Tugu Adipura, meski masa kontraknya sudah habis sejak Desember 2014 lalu. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG-Tugu Adipura di jalur pantura Desa/Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang ini, sudah menelan anggaran sebesar Rp 250 juta dari APBD 2014 lalu. Namun belum kelar proses pembangunannya, sudah mengalami kerusakan dan pondasinya ambles. Tahun 2015 ini, tugu tersebut kembali dikucuri anggaran Rp 200 juta dengan judul untuk pekerjaan finishing.

Pembangunan Tugu Adipura tersebut juga sempat ditentang banyak warga, karena proses pembangunannya diduga tidak sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB). Apalagi, bangunan yang belum berusia 6 bulan tersebut sudah beberapa kali retak pada bagian bawahnya. Diduga tanah urug yang digunakan tidak padat, sehingga pondasi penyangga tidak kuat.

Samsudin, 45, warga Desa/Kecamatan Kandeman mengungkapkan bahwa retaknya pondasi dan pada tiang penyangga, karena kurang kuatnya tanah urugan. Seharusnya, pembuatan tugu dilakukan dengan membuat cor beton, bukan dengan tanah urug dan batu pondasi biasa.

“Bagaimana tidak ambles, pondasinya saja dibuat di atas tanah timbunan biasa. Sekarang bangunannya sudah agak bagus, sejak diperbaiki bulan Januari lalu. Tapi kalau kena hujan terus, saya yakin akan ambles lagi. Harusnya ditambah bangunan cor beton,” kata pemilik warung makan yang tidak jauh dari lokasi Tugu Adipura tersebut.

Samsudin menengarai bahwa pembangunan Tugu Adipura dibuat tanpa perencanaan yang matang. Pasalnya, tidak memperhitungkan derasnya air hujan yang masuk ke lokasi bawah tugu. “Perbaikan Tugu Adipura ini sudah dilakukan dua kali ini. Harusnya, proyek kelar sejak Desember 2014 lalu. Itulah, kalau tugu dibuat asal buat, tanpa perencanaan,” ujar Samsudin.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH), Kabupaten Batang, Agus Riyadi, menjelaskan bahwa BLH Kabupaten Batang masih akan melanjutkan pembangunan Tugu Adipura di jalur pantura Kecamatan Kandeman tersebut. Menurutnya proyek lanjutan Tugu Adipura tersebut, untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan finishing.

“BLH menganggarkan lagi sebesar Rp 200 juta, baik untuk perencanaan, pelaksanaan konstruksi, maupun pengawasannya. Mudah-mudahan, kegiatan lanjutan ini bisa mempercantik Tugu Adipura,” jelas Agus Riyadi.

Agus juga menandaskan bahwa dana Rp 200 juta untuk mengeraskan, pengaturan drainase air, termasuk daerah resapan air. Pasalnya, jika terjadi hujan, air di jalan akan masuk ke kompleks tugu. Sehingga perlu penguatan tugu serta finishing seperti pengecatan dan pemasangan lampu. Selain itu, penataan penghijauan atau taman tugu tersebut.

“Agar pondasinya tidak tergerus air, dibuatkan saluran air, sehingga bisa langsung masuk ke sungai yang ada di depan tugu. Nantinya pepohonan peneduh di sekitarnya akan ditata, sehingga bisa lebih mudah dilihat pengguna jalan,” tandas Agus Riyadi. (thd/ida)