Tinggi, Jumlah Penderita TBC

452
PAKAI MASTER: Petugas BKPM sedang menerima pasien suspect TBC, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
PAKAI MASTER: Petugas BKPM sedang menerima pasien suspect TBC, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
PAKAI MASTER: Petugas BKPM sedang menerima pasien suspect TBC, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG–Jumlah warga di eks karesidenan Kedu yang menderita penyakit tuberculosis alias TBC melonjak. Dua di antaranya bahkan sudah meninggal dunia, karena positif mengidap virus Mycobacterium Tuberculosis (MTB). Keduanya sudah masuk fase yang sudah parah, multidrug resistant tuberculosis (MDR).

“Dari suspect TB Paru yang kami kirim ke RS Moewardi Solo pada 2013 sebanyak 29 suspect, 4 di antaranya MDR. Pada 2014, kami mengirim 9 suspect, 1 positif MDR,” kata staf Tata Usaha (TU) Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Magelang, Udik Warsito. Wilayah kerja BKPM Magelang meliputi kota dan Kabupaten Magelang, Purworejo, Kebumen, Cilacap, Banyumas, Purbolunggo, Banjarnegara, dan Wonosobo.

Ia membeber, pada 2014, secara keseluruhan kunjungan pasien mencapai 25.3378. Rinciannya, kunjungan umum sebanyak 22.007 pasien, pemegang Askes/BPJS Kesehatan 1.112 dan Jamkesda sebanyak 2.219 pasien. Dari jumlah itu, kunjungan TB ada 2.906. Sedangkan jumlah pelayanan non-TB sebanyak 22.432 kunjungan, pelayanan radiologi (6.594) dan pelayanan laboratorium sebanyak 2.039. “Rata-rata kunjungan per hari sekitar 100 pasien per hari,” jelasnya.

Ia mengklaim, angka kesembuhan TBC melampaui target nasional: 70 persen. Itu terjadi pada 2013, di mana angka kesembuhan mencapai 80 persen. Lalu, 2014 di triwulan pertama 73 persen. Meski begitu, pada 2012, angka kesembuhan rendah. Tepatnya, di bawah target, hanya 64 persen. “Sesuai standar WHO, penderita TB mengonsumsi obat anti tuberculosis (OAT) minimal 6 bulan.”

Selain penularan yang cepat, bertambahnya penderita TBC karena kurang kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke BKPM.

Tidak bisa dipungkiri, kata Udik, pihaknya harus ekstra dalam memberikan penyuluhan maupun edukasi. Yaitu, melalui usaha kesehatan perorangan (UKP) dan usaha kesehatan masyarakat (UKM).

“Selain program pelayanan pasif atau kami (BKPM, Red) menunggu pasien datang, kami juga memiliki program aktif, terjun ke masyarakat.”

BKPM, klaim Udik, juga melakukan pemeriksaan faktor risiko ke keluarga penderita. “Jadi, setiap pasien TB, maka keluarganya akan kami datangi; apakah ada yang tertular atau tidak.” Ia menargetkan pada 2015 mendatang, bisa memeriksa minimal 300 anggota pasien.

Setiap pasien TB Paru, kata Udik, kini intens dikunjungi petugas medis, Tujuannya, memastikan apakah obat-obatnya diminum pasien atau tidak.

Apa faktor penularan TB? Dokter Siti Atika Widiastuti mengatakan, penularan bisa melalui percikan air liur penderita kepada orang lain. Seperti melalui batuk maupun bersin. Penyakit ini dominan menyerang dewasa. Sedangkan anak-anak adalah penderita yang tertular dari orang dewasa. “Karena terapi penyembuhan hanya melalui obat, maka dibutuhkan keteraturan meminumnya. Kemudian perbaikan status gizi.”

Bagi penderita TB-MDR yang kumannya sudah kebal dengan berbagai obat, dosisnya harus ditambah. Pasien tidak boleh berhenti meminum obat sampai dinyatakan sembuh oleh dokter.

“OAT terdiri atas beberapa antibiotic. Kalau TB biasa ada 6 obatnya, sedangkan TB-MDR obatnya 15 macam; dan harus diminum setiap hari, kemudian mereka (penderita, Red) harus suntik setiap hari.”

Untuk menghindari penularan, penderita harus memakai masker. Selain penderita, pihaknya juga melakukan edukasi secara holistik alias menyeluruh. Yaitu, terkait penyebab, penanganan, pencegahan hingga penyembuhannya.

Dokter Atika berharap, stigma mengucilkan penderita bisa dipatahkan dan berbalik memberikan dukungan demi kesembuhan penderita.

Perawat BKPM Magelang, Tjatur Martiwi menambahkan, penyakit TB muncul karena faktor lingkungan. Seperti kurang pencahayaan, udara yang terlalu lembab, dan sirkulasi udara yang kurang. Padahal, sebetulnya kuman MTB bisa mati jika terkena langsung sinar matahari. Dikatakan, Indonesia berada di peringkat 5 dengan penderita TB terbanyak di dunia.

Apa saja gejala seorang mengidap TB? “Batuk selama 3 minggu tidak sembuh-sembuh, keluar keringat pada malam hari walaupun tidak beraktivitas berat, meriang, maupun nafsu makan turun dan berat badan juga ikut turun.” (put/isk)