MENGKHAWATIRKAN : Rawa Pening tak hanya dipenuhi tanaman enceng gondok, namun diperparah dengan tumbuhan liar lainnya sehingga mengganggu petani ikan. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
MENGKHAWATIRKAN : Rawa Pening tak hanya dipenuhi tanaman enceng gondok, namun diperparah dengan tumbuhan liar lainnya sehingga mengganggu petani ikan. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
MENGKHAWATIRKAN : Rawa Pening tak hanya dipenuhi tanaman enceng gondok, namun diperparah dengan tumbuhan liar lainnya sehingga mengganggu petani ikan. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

TUNTANG—Lantaran tidak ada manajemen pengelolaan, Rawa Pening kini semakin kritis. Hampir separuh rawa, dipenuhi tumbuhan enceng gondok dan tanaman liar. Akibatnya, jumlah nelayan, petani ikan dan jasa penyewaan perahu menurun drastis. Bahkan banyak yang gulung tikar.

Yoyok, 27 tahun, penjual lumut dan warung makan di Desa Sumurup, Kecamatan Tuntang mengungkapkan bahwa pertumbuhan enceng gondok di area Rawa Pening sudah memprihatinkan. Para petani dan penambang kompos sering terjebak di enceng gondok. “Niatnya membuka jalan untuk mencari kompos, malah terperangkap di enceng gondok,” katanya.

Kalau enceng gondok saja mungkin tidak terlalu sulit untuk membuka jalan. Tapi kini banyak tumbuhan liar lain ikut tumbuh seiring matinya tumbuhan enceng gondong yang kemudian menjadi pupuk. “Sekarang banyak anak muda di Desa Sumurup yang menganggur, akibat banyak penyewaan perahu, karamba yang gulung tikar. Dulu mereka ikut bekerja di sana. Ada yang membantu, ada juga yang membuka usaha sendiri,” tuturnya.

Hal senada diungkap oleh Agus, 33, warga Desa Sumurup. Menurutnya, Pemkab Semarang tidak serius dalam membersihkan enceng gondok di Rawa Pening. Sepengetahuannya, pembersihan yang melibatkan kontraktor banyak melakukan kecurangan. Seumpama rencana pembersihan 15 hektare, hanya digarap 6 sampai 7 hektare. Itupun hanya menggunakan 2 kapal untuk menarik enceng gondok kemudian baru dikeruk dengan eskavator.

“Kalau mau serius, harusnya ditata sejak awal. Memang enceng gondok tidak semuanya dibasmi. Karena perajin enceng gondong dan petani ikan butuh tumbuhan itu. Tapi perlu diatur dengan baik. Misalnya, melakukan karantina enceng gondok. Dimana harusnya letak karamba. Sehingga petani dan nelayan tidak habis tenaganya untuk membuka rerimbunan enceng gondok,” pungkasnya.

Sementara itu, Camat Tuntang, Gunadi melalui Sekcam, Suwardi, mengatakan untuk meminimalisasi tumbuhan enceng gondok, harus ada padat karya yang melibatkan Kecamatan Ambarawa, Banyubiru, Bawen dan Tuntang. Jika keempat kecamatan tersebut bersinergi dalam penanganan enceng gondok, masalah ini bisa terpecahkan. “Yakni melibatkan pemuda yang masih menganggur,” harapnya

Diakuinya, pertumbuhan enceng gondok memang mengkhawatirkan. Bahkan Bupati Kabupaten Semarang bersama kepala SKPD datang ke Kesongo untuk memberi bantuan beras, karena para nelayan tidak bisa melaut. Dahulu pernah ada kontraktor dari Surabaya yang membersihkan Rawa Pening. Tapi karena hanya dicacah, rawa hanya terlihat bersih sebentar kemudian pertumbuhannya tambah parah. “Harusnya memang tumbuhan tersebut ditumpuk di pinggir atau di tengah, nanti malah akan busuk sendiri dan akan menguntungkan penambang kompos,” pungkasnya. (abd/ida)