KEKURANGAN KALSIUM : Seekor sapi lumpuh di Balai Pembibitan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jateng di Kopeng. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
KEKURANGAN KALSIUM : Seekor sapi lumpuh di Balai Pembibitan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jateng di Kopeng. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
KEKURANGAN KALSIUM : Seekor sapi lumpuh di Balai Pembibitan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jateng di Kopeng. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

GETASAN—Sakit lumpuh menghantui peternak sapi perah di Getasan. Sudah ada 7 ekor sapi bantuan PNPM yang terserang penyakit lumpuh. Pada saat yang bersamaan di Balai Pembibitan dan Budidaya Ternak, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, juga terdapat satu sapi indukan yang terkena penyakit lumpuh.

Dari pantauan wartawan Radar Semarang Kamis (26/2) kemarin di Kelompok Tani Mardi Santosa, Dusun Sidomukti, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, diduga karena banyak sapi kekurangan mineral di tengah kondisi kandang yang selalu becek, dan pakan yang selalu basah, membuat sapi mudah terserah penyakit cacingan.

Suharso, 63, salah satu anggota Kelompok Tani Mardi Santoso asal Dusun Sidomukti mengungkapkan bahwa saat ini peternak sedang dihadapkan dengan permasalahan penyakit dan kenaikan harga pakan sentrat. Sampai sejauh ini, sudah ada 7 ekor sapi di Mardi Santoso yang lumpuh. Dugaan sementara, sapi kurang kalsium.

“Saya sendiri memelihara empat sapi bantuan dari PNPM. Sekarang sudah bertambah menjadi empat ekor. Dua indukan dan dua anakan. Makanya untuk pakan dan minuman saya ekstra hati-hati. Karena jika sudah terkena penyakit, harga jualnya sangat rendah,” katanya.

Hal senada diungkapkan Masngudi, 25, peternak sapi asal Desa Sumogawe, Kabupaten Semarang. Menurutnya, penyakit lumpuh biasanya menjangkiti sapi perah. Karena untuk menghasilkan susu sapi, membutuhkan banyak mineral dari kaki. Wajar jika banyak sapi kekurangan kalsium, sehingga kakinya lumpuh.

“Masalahnya sekarang, banyak sapi mulai cacingan. Itu disebabkan karena pakan yang masih berair dan kandang becek. Ditambah lagi pembuangan air kotoran tidak bisa mengalir dengan lancar. Solusinya adalah menjaga kebersihan kandang dan pakan,” katanya.

Drh Bashori, 29, yang juga warga Susukan, Kabupaten Semarang mengatakan bahwa pergantian musim memang sangat mempengaruhi kesehatan ternak. Bisa penyakit kaki akibat pergantian musim, juga bisa kekurangan kalsium. “Jika kekurangan kalsium, bisa memanggil dokter hewan setempat untuk disuntikkan kalsium. Tapi jika penyakit kaki, perlu dicek laborat. Dokter tidak bisa berspekulasi, karena harus melihat tempat dan suhu di daerah tertentu,” terangnya.

Sementara itu, Camat Getasan Gustomo Hartanto membenarkan adanya 7 sapi di Kelompok Tani Mardi Santosa yang mengalami lumpuh, tapi rinciannya 2 patah kaki dan 5 lainnya lumpuh karena kekurangan kalsium. “Untuk lebih jelasnya, bisa menghubungi Dinas Peternakan Kabupaten Semarang. Terkait ini bukan wewenang saya untuk menjelaskan, takutnya salah,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang, Agus Purwoko Djati mengatakan, lumpuhnya sapi bisa diakibatkan banyak hal. Pertama, faktor genetik. Yaitu bisa jadi karena terlahir sungsang. Yang kedua bisa juga karena kekurangan kalsium. Saat ini memang rumput sedang banyak, karena terlena, sehingga kadang lupa memberi vitamin dan kalsium. Juga bisa akibat keberatan berat badan. Sapi terlihat gemuk tapi dagingnya tidak padat. Terakhir adalah cacingan.

“Pada saat seperti ini, perlu perawatan lebih intensif. Terkait dengan pergantian musim tidak ada hubungannya dengan kelumpuhan sapi. Soalnya di UPTD, juga ada yang terkena lumpuh. Jika sapi kekurangan kalsium, bisa menghubungi mantri terdekat, untuk dilakukan suntik,” pungkasnya. (abd/ida)