PRIHATIN : Para siswa SDN Timbulsloko, Kecamatan Sayung turut melepas kepiting di kawasan hutan mangrove desa tersebut. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
PRIHATIN : Para siswa SDN Timbulsloko, Kecamatan Sayung turut melepas kepiting di kawasan hutan mangrove desa tersebut. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
PRIHATIN : Para siswa SDN Timbulsloko, Kecamatan Sayung turut melepas kepiting di kawasan hutan mangrove desa tersebut. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK-Populasi kepiting di kawasaan hutan bakau terus merosot, seiring dengan rusaknya mangrove dan penangkapan besar-besaran oleh nelayan. Akibatnya, kepiting terancam punah dari laut Indonesia, utamanya di wilayah Demak.

Prihatin dengan kondisi ini, para siswa dari SDN Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung membantu melepaskan kepiting bertelur di hutan bakau di wilayah pinggiran desa tepi pantai tersebut. Bahkan, ada di antara siswa yang kesakitan lantaran jarinya dicapit kepiting. Ada sekitar 1.400 kepiting yang dilepas, termasuk kepiting indukan.

Woro Nur Endang Sariyati dari Dinas Balai Karantina dan Keamanan Hasil Perikanan Semarang menuturkan bahwa ribuan kepiting betina bertelur tersebut merupakan hasil sitaan pihak karantina di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Sedianya, kepiting itu hendak diekspor ke Tiongkok. Penyitaan kepiting bertelur sebelumnya berdasarkan peraturan pemerintah yang melarang ekspor kepiting bertelur. Ini karena jumlah produksi kepiting menurun drastis tiap tahunnya.

Sedangkan, pihak karantina sengaja mengajak anak-anak untuk menanamkan cinta lingkungan sejak dini. “Ini kepiting ukurannya cukup besar dan sebagian dalam kondisi bertelur. Kami melepaskan untuk konservasi alam di habitat aslinya dengan harapan nantinya kepiting ini akan hidup dan berkembang biak,” jelasnya. (hib/ida)