Penyaluran Kredit Bank Umum Dipacu

118

SEMARANG – Hasil survei Bank Indonesia mengindikasikan bahwa penyaluran kredit Bank Umum di Jawa Tengah pada triwulan I ini akan mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan adanya dukungan pemasaran maupun promosi sehingga target ekspansi kredit diprediksikan akan tercapai.

“Survei yang dilakukan kepada perbankan mengkonfirmasikan bahwa sebagian besar responden (70,3 persen) mengekspektasikan optimisme penyaluran kredit akan meningkat sebesar 16,5 persen (qtq),” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Iskandar Simomangkir, kemarin (26/2).

Kebijakan penyaluran kredit baru pada triwulan I ini diarahkan pada kredit modal kerja, kredit konsumsi dan kredit investasi dengan pangsa penyaluran kredit sebesar 58,3 persen, 38,9 persen dan 2,8 persen. Arah kebijakan tersebut memperlihatkan di tengah ketatnya persaingan usaha dan kondisi perekonomian yang membaik, Bank Umum lebih cenderung menyalurkan kredit dengan jangka waktu yang pendek.

Menurut sektor ekonomi, sebagian besar penyaluran kredit akan disalurkan kepada sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, Konstruksi dan Jasa-jasa, dengan pangsa masing-masing 55,6 persen, 13,9 persen dan 11,1 persen. Kemudian dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga, pada triwulan I-2015 sebagian besar responden (60 persen) memperkirakan akan meningkat dengan pertumbuhan sebesar 13,6 persen (qtq).

Peningkatan dana pihak ketiga ini disebabkan oleh faktor penyesuaian tingkat suku bunga yang ditawarkan akan berpotensi menarik minat masyarakat untuk menambah simpanan dananya di perbankan, serta dukungan fasilitas dan jasa perbankan. Sumber dana sebagian besar akan diperoleh dari deposito (61,1 persen) diikuti dari tabungan (27,8 persen) dan giro (11,1 persen).

Tingkat suku bunga yang ditawarkan pada triwulan I-2015 baik kredit maupun dana pihak ketiga, diperkirakan relatif tidak berubah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. “Seiring dengan kondisi perekonomian saat ini, kalangan perbankan dalam menyalurkan pinjaman akan tetap berhati-hati, untuk menghindari kemungkinan meningkatnya rasio kredit bermasalah (non performing loan) dan tetap menjaga likuiditas bank,” jelasnya. (dna/smu)