Hasil Ngamen Buat Beli Alat Musik

341
NGAMEN : Grup Musik Putra Domas saat mengamen di Kecamatan Bandar Kabupaten Batang. (Faiz Urhanul Hilal/Radar Semarang)
NGAMEN : Grup Musik Putra Domas saat mengamen di Kecamatan Bandar Kabupaten Batang. (Faiz Urhanul Hilal/Radar Semarang)
NGAMEN : Grup Musik Putra Domas saat mengamen di Kecamatan Bandar Kabupaten Batang. (Faiz Urhanul Hilal/Radar Semarang)

Meski tetap berpotensi, solidaritas kelompok pemuda di kampung-kampung tak selalu mengarah kepada hal yang negatif. Bahkan kreativitas yang tercipta bisa menjadi hal yang membanggakan dan membesarkan nama kampung halaman.

FAIZ URHANUL HILAL, Batang

MIMPI memiliki grup musik yang tetap gandrung terhadap tradisi atau kebudayaan nusantara, akhirnya berhasil diwujudkan sekolompok pemuda kampung Desa Padomasan Kecamatan Reban Kabupaten Batang sejak Juli 2014. Berasal dari nama Desa Padomasan, grup musik tradisional ini diberi nama Putra Domas.

“Awalnya hanya dari kumpul-kumpul biasa, lalu ada ide bikin grup musik tradisional. Kebetulan ada yang pernah menjadi anggota kesenian pewayangan namanya Pak Rino,” kata Jumanto, 29, salah satu personil Putra Domas.

Kentalnya nilai budaya nusantara di masyarakat Padomasan, dibuktikan dengan alat musik pertama yang dibeli dari hasil iuran warga. Bukan dari jenis gamelan sebagai alat musik tradisional Jawa atau Bali, melainkan angklung yang merupakan alat musik tradisional Sunda.

“Rencananya ke depan, kami mengusung budaya nusantara. Jadi alat musiknya tidak hanya dari tradisional Jawa. Untuk angklung itu iuran, harganya saat itu Rp 1,3 juta. Yang megang angklung ya Pak Rino,” paparnya.
Alat musik lain yang dimiliki yakni triutum dan gambang. Selain membeli, alat musik juga ada yang dibikin sendiri, seperti kendang dari bahan karet ban dan tong/drum sebagai alat musik pukul.

Sebagai klangenan untuk nguri-uri kebudayaan nusantara, grup musik ini juga membawakan lagu-lagu dari berbagai daerah dengan genre dangdut. “Kami juga menggarap lagu-lagu campursari dan sholawatan,” kata Jumanto yang merupakan personel termuda grup musik tersebut.

Di tengah keterbatasan alat musik, grup yang digawangi Jumanto (kendang 1); Suroso, 50, (gambang); Rino, 43, (angklung); Slamet Bisri, 47, (triutum); Parmin, 42, (kendang 2) ini, juga ngamen atau anjangsana ke berbagai daerah. Hasil dari ngamen tersebut, digunakan untuk membeli alat musik lainnya.

“Idealnya ada 8 alat musik. Kami baru memiliki lima jenis alat musik. Terakhir kami beli remo. Ngamennya juga tidak mesti setiap minggu atau setiap bulan sekali. Tergantung kalau pas semua personel libur kerja. Kalau ada satu yang tidak bisa, kami tidak jadi ngamen,” kata Jumanto.

Sejumlah daerah yang pernah disinggahi Putra Domas di antaranya Kecamatan Bandar, Kecamatan Blado, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Temanggung. Meski waktu latihan dilakukan pada malam hari, keberadaan grup musik Putra Domas sangat disambut antusias masyarakat Desa Padomasan maupun sekitarnya.

Menurut Rino, pada siang hari semua personel sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang dagang, tukang kayu, tukang batu, buruh dan petani. “Kalau latihan, warga berdatangan menonton, jadi ramai sekali. Malah semacam hiburan bagi warga sekitar,” kata Rino.

Pria yang saban hari bekerja sebagai tukang kayu tersebut mengaku, selain latihan rutin, juga melakukan melatih anak-anak agar grup musik tersebut tetap lestari. “Harapannya ke depan, kami juga ingin punya biduan sendiri dan bisa pentas di rumah makan atau hotel-hotel. Sekarang biduannya belum ada,” imbuhnya. (*/ida)